JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan pandangannya mengenai harapan yang sejak awal diperjuangkan para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) bagi bangsa Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan Prabowo ketika membuka Muktamar ke-35 NU yang digelar di Lapangan Untung Suropati, kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menyoroti kuatnya rasa kebangsaan yang telah dimiliki para ulama dan tokoh NU jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Ia kemudian mengangkat lagu Syubbanul Wathan yang diciptakan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai salah satu contoh nyata semangat cinta tanah air tersebut.
“Yang menarik bagi kita semua, terutama generasi muda, yang menarik adalah bahwa lagu ini diciptakan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan,” ujar Prabowo, dikutip dari berbagai sumber (28/08/26).
Menurut Prabowo, lahirnya lagu tersebut memperlihatkan bahwa semangat nasionalisme telah berkembang di lingkungan pesantren ketika Indonesia bahkan belum berdiri sebagai sebuah negara.
Ia mengatakan keberanian para pemimpin religius dalam menyuarakan patriotisme menjadi bukti adanya gagasan besar mengenai masa depan bangsa.
“Pada waktu itu belum tahu negara yang diproklamasikan bentuknya bagaimana, namanya saja belum begitu jelas. Tapi pemimpin-pemimpin religius berani membuat lagu yang demikian patriotik dan nasionalis belasan tahun sebelum proklamasi kemerdekaan,” katanya.
Prabowo selanjutnya menjelaskan bahwa semangat yang terkandung dalam lagu tersebut sejalan dengan tujuan para pendiri NU dalam membangun Indonesia.
“Jadi cita-cita pendiri NU adalah agar bangsa Indonesia bangkit, agar bangsa Indonesia setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini,” ujar Prabowo.
Kebangkitan Indonesia Harus Dibangun dengan Keadilan
Prabowo menilai kemajuan Indonesia tidak semata-mata diukur dari kemampuan bangsa untuk berdiri sejajar dengan negara lain.
Baginya, kebangkitan nasional harus menghasilkan kehidupan masyarakat yang adil sekaligus sejahtera.
“Agar bangsa Indonesia kalau bangkit artinya bangsa Indonesia itu terhormat, bangsa yang terhormat adalah bangsa yang adil dan makmur,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kemakmuran tidak dapat dipisahkan dari keadilan. Keduanya menjadi fondasi penting agar Indonesia mampu menjadi bangsa yang dihormati.
“Tidak ada bangsa yang dihormati kalau ia tidak makmur, dan tidak ada kemakmuran tanpa keadilan,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Prabowo juga mengungkapkan rasa terima kasih karena dapat hadir dalam Muktamar ke-35 NU.
Ia mengatakan kehadirannya sebagai Presiden Republik Indonesia bukan untuk mencampuri ataupun mengatur proses pelaksanaan muktamar.
“Saya tentunya mengucapkan terima kasih atas kehormatan yang besar yang diberikan kepada saya sebagai Presiden Republik Indonesia yang ke-8 hadir di Muktamar ke-35, saya tidak mengatur ini semua, saya juga tidak mengerti,” kata Prabowo.
Menutup sambutannya, Prabowo menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta Muktamar ke-35 NU.
“Terima kasih dan saya tidak akan panjang-lebar dalam sambutan ini, selamat bermuktamar Nahdlatul Ulama,” ujar Presiden.
Muktamar ke-35 NU digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, mulai 27 hingga 31 Agustus 2026.
Muktamar tersebut menjadi forum strategis bagi NU untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus membahas arah kebijakan, program, dan kepemimpinan NU ke depan.