JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Serbia Aleksandar Vucic mengundurkan diri pada Minggu (27/9/2026), menjelang pemilihan parlemen yang akan digelar pada 25 Oktober 2026.
Pengunduran diri tersebut mengakhiri masa jabatan kedua sekaligus terakhir Vucic sebagai presiden dan membuka jalan bagi pemilihan presiden lebih awal.
Vucic sebelumnya telah menyatakan akan mundur dan kini berencana maju sebagai kandidat dari Partai Progresif Serbia (SNS) dalam pemilu parlemen dengan peluang untuk menjadi perdana menteri jika partainya membentuk pemerintahan.
“Saya ingin memberi tahu bahwa pada 27 September saya akan mengundurkan diri sebagai presiden,” kata Vucic dalam pernyataan sebelumnya yang dikutip Reuters.
Dalam pidatonya saat mengumumkan pengunduran diri, Vucic mengatakan malam tersebut menjadi kesempatan terakhirnya berada di gedung kepresidenan sebagai kepala negara.
Ia juga menyebut telah menjabat sebagai presiden lebih lama dibandingkan siapa pun dalam sejarah Serbia sejak demokrasi multipartai berdiri.
Setelah pengunduran diri Vucic, Ketua Parlemen Serbia Ana Brnabic akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara hingga presiden baru terpilih.
Pemilihan presiden harus diselesaikan dalam waktu 90 hari setelah pengunduran diri tersebut, dengan putaran pertama diperkirakan berlangsung sebelum akhir Desember 2026.
Pengunduran diri Vucic berlangsung di tengah hampir dua tahun demonstrasi yang dipimpin mahasiswa dan dipicu runtuhnya kanopi beton di stasiun kereta api Novi Sad pada November 2024 yang menewaskan 16 orang.
Para pengunjuk rasa menuntut pertanggungjawaban atas tragedi tersebut dan menuduh adanya korupsi serta kurangnya transparansi, sementara pemerintah membantah tuduhan tersebut.
Pada Minggu (27/9/2026), ratusan pendukung Vucic berkumpul di depan gedung kepresidenan di Belgrade untuk menyambut pengunduran dirinya.
Pemilu parlemen 25 Oktober akan mempertemukan SNS dan sekutunya dengan gerakan mahasiswa Students Win serta koalisi oposisi European Serbia.