JAKARTA, Cobisnis.com - Suhu udara di kawasan Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, terasa semakin sejuk hingga dingin ketika sore beranjak malam.
Fenomena ini terjadi saat Indonesia masih berada dalam periode musim kemarau.
Peneliti sekaligus dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Givo Alsepan, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor meteorologis.
Salah satu faktor yang berperan adalah aktivitas monsun Australia.
"Udara dingin yang dirasakan di Puncak pada sore menjelang malam saat musim kemarau memang dapat dipengaruhi masuknya massa udara dari Australia. Massa udara tersebut umumnya memiliki karakter relatif kering dan lebih dingin ketika bergerak melewati wilayah Indonesia dan Samudra Hindia," ujar Givo , dikutip dari berbagai sumber, Rabu (26/8/2026).
Namun, Givo menjelaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti massa udara dingin dari Australia bergerak secara langsung menuju Bogor.
Penurunan suhu di Puncak terjadi melalui kombinasi sejumlah mekanisme atmosfer.
"Monsun Australia berperan dalam pembentukan kondisi musim kemarau di Indonesia. Pada periode tersebut, tekanan udara di Australia relatif lebih tinggi dibandingkan wilayah Asia. Perbedaan tekanan ini menghasilkan pola aliran angin timuran hingga tenggara yang bergerak dari Australia menuju Indonesia," urainya.
BMKG memperkirakan musim kemarau masih berlangsung di sebagian besar wilayah Indonesia hingga September 2026. Sementara itu, Agustus diprediksi menjadi periode puncak musim kemarau tahun ini.
Aktivitas monsun Australia pada 2026 juga diperkirakan masih berlangsung hingga penghujung tahun. Intensitasnya diprediksi berada pada kisaran normal.
Kondisi Udara Kering Mempercepat Penurunan Suhu
Givo menyebut keberadaan massa udara yang relatif kering bukan satu-satunya penyebab suhu Puncak terasa lebih dingin. Langit yang cerah dengan sedikit tutupan awan juga turut memengaruhi kondisi tersebut.
"Udara yang lebih kering dan minim tutupan awan membuat permukaan bumi menerima lebih banyak radiasi matahari pada siang hari sehingga mengalami pemanasan cukup tinggi. Setelah matahari terbenam, permukaan bumi kemudian melepaskan panas dalam bentuk radiasi gelombang panjang ke atmosfer dan angkasa," paparnya.
Ketika malam tiba, permukaan bumi mulai melepaskan panas yang tersimpan sepanjang siang. Proses pelepasan panas tersebut dapat berlangsung lebih cepat apabila kondisi langit cerah dan kadar uap air di atmosfer rendah.
Akibatnya, suhu permukaan dan udara di sekitar kawasan tersebut mengalami penurunan lebih cepat setelah matahari terbenam.
Fenomena pelepasan panas tersebut dikenal sebagai pendinginan radiatif. Kondisi ini cenderung semakin kuat pada musim kemarau ketika kelembapan udara lebih rendah dan tutupan awan relatif sedikit.
"Jadi, suhu dingin yang dirasakan warga maupun wisatawan di Puncak saat musim kemarau merupakan hasil interaksi antara pola angin monsun Australia, massa udara yang relatif kering, kondisi langit, serta proses pendinginan radiatif setelah matahari terbenam," ungkap Givo menyimpulkan.