Ramadan Tanpa Malam: Kisah Puasa Ekstrem di Kutub Utara

Oleh Hidayat Taufik pada 17 Feb 2026, 16:04 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Menunaikan ibadah puasa di kawasan Kutub Utara menjadi pengalaman yang sangat kontras dibandingkan dengan wilayah beriklim tropis. Letak geografis yang ekstrem menyebabkan perbedaan durasi siang dan malam berlangsung sangat tajam, sehingga secara langsung memengaruhi pola waktu ibadah umat Muslim selama bulan Ramadan.

Salah satu kondisi paling ekstrem terlihat dari durasi puasa yang dapat mencapai hingga 23 jam. Di Nuuk, ibu kota Greenland, matahari pada musim panas hampir tidak pernah benar-benar terbenam. Jika Ramadan berlangsung pada periode ini, umat Muslim harus menjalani puasa hampir sepanjang hari tanpa jeda malam yang jelas.

Kondisi tersebut dipicu oleh posisi wilayah yang berada dekat dengan Lingkar Arktik. Di kawasan ini, matahari dapat terus terlihat di langit selama 24 jam, sebuah fenomena alam yang dikenal sebagai midnight sun atau matahari tengah malam.

Sebaliknya, ketika Ramadan jatuh pada musim dingin, situasinya justru berbalik. Durasi siang menjadi sangat singkat, sehingga waktu puasa dapat berlangsung hanya sekitar 10 hingga 12 jam. Hal ini menjadikan umat Muslim di wilayah Arktik mengalami variasi waktu puasa yang ekstrem dari satu tahun ke tahun berikutnya.

Tantangan berpuasa di Kutub Utara tidak hanya bersifat alamiah, tetapi juga sosial. Jumlah komunitas Muslim di Greenland tergolong sangat terbatas dan mayoritas berasal dari kalangan pendatang serta pekerja asing. Akibatnya, ibadah puasa sering dijalani secara individual, tanpa suasana Ramadan yang hidup seperti di negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Meski demikian, kehidupan sosial tetap berjalan harmonis. Masyarakat setempat dikenal memiliki tingkat toleransi yang tinggi terhadap perbedaan keyakinan, selama para pendatang menghormati nilai dan budaya lokal yang menjadi identitas wilayah tersebut.

Dalam kondisi ekstrem semacam ini, sebagian ulama memberikan keringanan dengan membolehkan umat Muslim mengikuti waktu puasa dari negara terdekat yang memiliki durasi siang lebih normal, terutama jika puasa terlalu panjang berpotensi membahayakan kesehatan. Fleksibilitas ini menunjukkan kemampuan ajaran Islam dalam beradaptasi dengan kondisi geografis yang tidak lazim.

Karena kalender Islam berbasis lunar dan lebih pendek sekitar 11 hari dibanding kalender Masehi, bulan Ramadan terus bergeser setiap tahun. Perpindahan ini membuat umat Muslim di Kutub Utara mengalami perubahan durasi puasa yang sangat beragam dari sangat panjang hingga relatif singkat menjadikan pengalaman berpuasa di wilayah ini sebagai salah satu yang paling unik di dunia.