JAKARTA, Cobisnis.com - Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke level Rp17.913 per dolar AS pada perdagangan Senin (12/10/2026). Rupiah terkoreksi 14 poin atau 0,08% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan tren yang beragam. Yuan China melemah 0,01%, sementara yen Jepang terkoreksi 0,08% dan dolar Hong Kong bergerak datar.
Sejumlah mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan naik 0,62%, peso Filipina menguat 0,10%, ringgit Malaysia terapresiasi 0,06%, dan dolar Singapura naik 0,03%.
Di pasar mata uang negara maju, euro melemah 0,07% dan dolar Australia terkoreksi 0,16%. Franc Swiss turun 0,27% dan dolar Kanada melemah 0,05%, sedangkan poundsterling Inggris menguat 0,03%.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah terjadi di tengah sentimen penghindaran risiko atau risk-off di pasar saham domestik dan regional. Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.
Lukman juga menyoroti eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang masih membayangi pergerakan pasar keuangan. Ketidakpastian global tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor terhadap aset berisiko.
Selain situasi geopolitik, pelaku pasar turut mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat pada pekan ini. Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar.
Pelemahan rupiah sebesar 0,08% menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih berlanjut pada penutupan perdagangan tersebut. Namun, pergerakan mata uang kawasan yang bervariasi memperlihatkan bahwa respons pasar terhadap dolar AS tidak seragam.
Di tengah ketidakpastian global, perkembangan geopolitik dan data ekonomi AS menjadi faktor penting yang dicermati investor. Kedua faktor tersebut berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan arah pergerakan nilai tukar dalam perdagangan berikutnya.
Lukman menyampaikan bahwa tekanan terhadap rupiah pada perdagangan Senin berlangsung di tengah kehati-hatian investor. Perkembangan sentimen global dan respons pasar terhadap data inflasi AS akan menjadi perhatian dalam melihat pergerakan rupiah selanjutnya.