Selat Bab al-Mandeb Terancam, Jalur Minyak Global Hadapi Risiko Besar

Oleh Zahra Zahwa pada 12 Sep 2026, 11:50 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Selat Bab al-Mandeb, jalur pelayaran sempit di pintu masuk Laut Merah antara Yaman dan Djibouti, menghadapi tekanan baru. Jalur ini selama bertahun-tahun menjadi salah satu rute penting bagi distribusi minyak dari Timur Tengah ke pasar global.

Posisi strategis selat tersebut menjadikannya salah satu urat nadi perdagangan internasional. Karena itu, setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi dan aktivitas pelayaran dunia.

Dalam beberapa pekan terakhir, kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas di wilayah itu. Langkah tersebut dinilai membuka front baru dalam konflik antara Teheran dan Washington yang kini memasuki bulan ketujuh.

Sementara itu, situasi di lapangan berkembang cepat. Dalam 48 jam terakhir, Houthi dilaporkan memperkuat kendali mereka di sekitar jalur pelayaran tersebut.

Kelompok itu berhasil merebut Kota Mocha, sebuah pelabuhan penting di pesisir Laut Merah. Selain itu, sumber pemerintah Yaman menyebut Houthi juga menguasai Pulau Perim yang berada di tengah titik sempit Selat Bab al-Mandeb.

Pulau Perim memiliki nilai strategis tinggi karena lokasinya berada di jantung jalur pelayaran internasional. Karena itu, penguasaan wilayah tersebut dapat memberikan pengaruh besar terhadap lalu lintas kapal yang melintas.

Di sisi lain, perkembangan ini memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri pelayaran dan energi. Mereka menilai meningkatnya ketegangan dapat memperbesar risiko gangguan terhadap perdagangan global.

Meski begitu, para pengamat masih memantau dampak jangka panjang dari situasi tersebut. Namun, setiap perubahan keseimbangan kekuatan di Bab al-Mandeb berpotensi memengaruhi pasar energi dan rantai pasok dunia.