Selat Hormuz Jadi Titik Risiko, Konflik Iran Berpotensi Picu Inflasi Energi di Indonesia

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 09 Mar 2026, 10:47 WIB

Ilustrasi Selat Hormuz.

JAKARTA, Cobisnis.com – Konflik militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global. Ketegangan tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia sekaligus meningkatkan biaya logistik internasional.

Situasi ini menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor energi, kenaikan harga minyak dan biaya transportasi global dapat memberi tekanan terhadap perekonomian domestik.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dyah Titis Kusuma Wardani mengatakan perdagangan global saat ini sedang memasuki fase fragmentasi geopolitik. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya konflik antarnegara yang memengaruhi stabilitas jalur perdagangan internasional.

Menurut Dyah, konflik di Timur Tengah meningkatkan persepsi risiko terhadap jalur distribusi energi global yang strategis. Salah satu jalur yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.

Sekitar 20% perdagangan minyak global diketahui melewati jalur Selat Hormuz. Jika konflik di kawasan tersebut meningkat, risiko gangguan terhadap distribusi energi dunia juga akan semakin besar.

Bagi Indonesia, dampaknya memang tidak langsung dirasakan dalam waktu singkat. Namun peningkatan premi asuransi kapal, biaya transportasi energi, dan harga minyak global berpotensi memberikan tekanan pada sektor energi nasional.

Kenaikan biaya logistik internasional juga dapat memperbesar beban impor bahan bakar Indonesia. Jika jalur pelayaran terganggu atau premi perang meningkat, biaya impor energi berpotensi ikut melonjak.

Kondisi tersebut berisiko memicu inflasi energi di dalam negeri. Selain itu, tekanan terhadap anggaran negara juga bisa meningkat karena pemerintah harus menanggung beban subsidi energi yang lebih besar.

Lonjakan harga minyak dan gas juga berpotensi memengaruhi neraca perdagangan Indonesia. Nilai impor energi yang meningkat dapat mengurangi surplus neraca dagang yang selama ini menjadi salah satu penopang stabilitas ekonomi.

Selain sektor energi, gangguan jalur pelayaran internasional juga dapat memengaruhi pasokan komoditas penting. Produk seperti LNG, pupuk berbasis gas, dan bahan baku industri berpotensi mengalami keterlambatan pengiriman.

Jika kapal harus menghindari jalur berisiko seperti kawasan Hormuz atau Laut Merah, maka rute pelayaran akan menjadi lebih panjang. Hal ini membuat biaya logistik meningkat dan waktu pengiriman menjadi lebih lama.

Ketidakpastian global juga dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah serta arus investasi asing. Dalam situasi konflik geopolitik, investor biasanya memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, pemerintah dinilai perlu memperkuat strategi ketahanan energi nasional. Langkah seperti diversifikasi sumber energi, memperkuat cadangan strategis, serta memperluas kerja sama perdagangan regional menjadi semakin penting.

Tag Terkait