JAKARTA, Cobisnis.com - Banyak orang mengira gula dalam susu sama dengan gula tambahan yang perlu dibatasi ketat. Padahal keduanya berbeda, baik dari struktur maupun cara tubuh mencernanya.
Dokter sekaligus ahli gizi Vrischika Chabella atau akrab disapa Chika menjelaskan susu secara alami mengandung gula bernama laktosa. Laktosa bukan gula tambahan, melainkan gula alami yang sudah ada sejak susu terbentuk.
Laktosa terdiri dari dua gula sederhana, yaitu glukosa dan galaktosa. Sementara gula tambahan dalam produk susu biasanya berbentuk sukrosa, alias gula pasir biasa.
Perbedaan keduanya bisa dilihat dari indeks glikemik. Laktosa punya indeks glikemik lebih rendah, artinya dicerna lebih lambat dan tidak langsung picu lonjakan gula darah.
Sebaliknya, sukrosa bekerja lebih cepat di dalam tubuh. Konsumsi berlebihan dalam jangka panjang bisa tingkatkan risiko kesehatan, termasuk diabetes tipe 2.
Chika menegaskan struktur gula tambahan sudah berbeda dari gula alami, begitu juga cara tubuh mencernanya. Perbedaan inilah yang bikin dampaknya ke kesehatan tidak bisa disamakan.
Meski laktosa lebih aman, bukan berarti bebas dikonsumsi tanpa batas. Kemenkes menetapkan batas gula harian maksimal 50 gram atau setara empat sendok makan per hari.
Chika menambahkan laktosa dari susu tetap masuk dalam hitungan total gula harian. Panduan umumnya tidak anjurkan lebih dari 25 hingga 30 gram per hari, dan angka ini bisa berbeda tergantung kondisi tiap orang.
Bagi penderita diabetes tipe 2, pembatasan gula harian jadi hal yang jauh lebih serius. Konsumsi susu tetap boleh, tapi harus masuk dalam perhitungan total asupan gula.
Chika mengingatkan susu sebaiknya dikonsumsi secukupnya dan ditempatkan sebagai pelengkap, bukan pengganti makanan utama. Kebutuhan gizi harian tetap harus dipenuhi dari makanan pokok terlebih dahulu.