JAKARTA, Cobisnis.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menunjukkan pendekatan keras dalam kebijakan luar negeri di awal 2026. Setelah fokus pada penguasaan dan pengelolaan sektor minyak Venezuela, arah kebijakan Washington kini melebar ke isu tekanan terhadap negara lain.
Venezuela menjadi titik awal karena posisinya sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Pemerintah AS menilai sektor energi negara tersebut memiliki nilai strategis tinggi, baik untuk kepentingan ekonomi maupun pengaruh geopolitik di kawasan Amerika Latin.
Trump secara terbuka menyebut bahwa penguasaan dan stabilisasi industri minyak Venezuela akan membuka ruang keuntungan besar bagi perusahaan energi Amerika Serikat. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi AS dalam peta energi global.
Namun, agenda tersebut tidak berhenti pada Venezuela. Trump mulai mengaitkan kebijakan energi dengan tekanan politik terhadap negara-negara yang dianggap berseberangan dengan kepentingan AS, termasuk Iran dan Meksiko.
Iran kembali disorot dalam konteks keamanan dan stabilitas regional. Pemerintah AS memberi sinyal bahwa setiap eskalasi internal atau eksternal di negara tersebut akan mendapat respons tegas, baik melalui tekanan diplomatik maupun ekonomi.
Sementara itu, hubungan dengan Meksiko juga berada dalam sorotan. Isu perdagangan, perbatasan, dan ketergantungan ekonomi menjadi faktor yang membuat Meksiko masuk dalam daftar negara yang berpotensi terkena kebijakan tekanan lanjutan.
Trump juga mendorong penggunaan instrumen tarif sebagai alat geopolitik. Pengenaan tarif tinggi terhadap negara atau pihak yang dinilai merugikan kepentingan AS menjadi bagian dari strategi ekonomi-politik yang lebih luas.
Pendekatan ini memperlihatkan pola kebijakan Trump yang menggabungkan kekuatan ekonomi, energi, dan tekanan politik secara bersamaan. Bagi pendukungnya, strategi ini dinilai efektif memperkuat posisi Amerika Serikat.
Namun, sejumlah pihak menilai langkah agresif tersebut berisiko memicu ketegangan baru di tingkat global. Ketergantungan dunia pada stabilitas energi membuat setiap kebijakan ekstrem berpotensi berdampak luas.
Ke depan, kebijakan Trump diperkirakan terus memengaruhi dinamika geopolitik internasional, terutama di sektor energi dan hubungan dagang antarnegara.