Tradisi Adat Jamasan Keris 1 Suro 2026: Warisan Jawa Sarat Makna dan Filosofi Kehidupan

Oleh Hidayat Taufik pada 15 Jun 2026, 20:05 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Tradisi jamasan pusaka atau pencucian keris pada malam 1 Suro tetap hidup di tengah masyarakat Jawa. Selain itu, tradisi ini terus dijaga sebagai bagian dari warisan budaya leluhur.

Ritual ini tidak hanya berfungsi sebagai proses perawatan benda pusaka. Namun, masyarakat juga memaknainya sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan sejarah.

Tradisi jamasan sudah dikenal sejak masa Kerajaan Majapahit. Saat itu, keris dan tombak dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Karena itu, proses perawatannya dilakukan dengan tata cara khusus dan penuh penghormatan.

Dalam praktiknya, masyarakat melakukan beberapa tahapan jamasan secara berurutan. Pertama, mereka membersihkan keris menggunakan bahan alami seperti air jeruk nipis. Setelah itu, mereka merendamnya dalam air bunga atau air kelapa.

Selanjutnya, proses pengeringan dan pemolesan dilakukan dengan hati-hati. Selain itu, pemilik pusaka juga memberikan minyak dan wewangian sebelum menyimpannya kembali dengan kain pelindung.

Secara makna, tradisi ini mencerminkan pelestarian budaya Jawa yang masih kuat hingga kini. Sementara itu, malam 1 Suro dipandang sebagai waktu yang sakral dan penuh energi spiritual.

Karena itu, banyak masyarakat menjadikan momen ini sebagai sarana refleksi diri. Meski begitu, nilai utama dari tradisi ini tetap pada pelestarian budaya dan penghormatan terhadap leluhur.

Di sisi lain, jamasan keris juga menjadi pengingat hubungan manusia dengan sejarah. Tradisi ini terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai identitas budaya yang kaya makna.