JAKARTA, Cobisnis.com – PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) atau PT KBI mencatat pertumbuhan transaksi perdagangan berjangka komoditas sekaligus memperluas ekosistem Sistem Resi Gudang (SRG) hingga Oktober 2026. Perusahaan memperkuat layanan kliring dan penjaminan, digitalisasi, serta program pemberdayaan masyarakat untuk mendukung perdagangan komoditas yang aman, transparan, dan berkelanjutan.
Hingga Oktober 2026, total transaksi Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK) yang dikliringkan PT KBI mencapai 9,27 juta lot, meningkat 2,6% secara tahunan dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Segmen Loco dan Komoditi Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) mencatat pertumbuhan transaksi sebesar 12,7%. Sementara itu, transaksi pasar fisik timah dalam negeri tumbuh 17,68% secara tahunan.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko merangkap Plt. Direktur Utama PT KBI Adiyasa Suhadibroto mengatakan, perusahaan terus menjaga kepercayaan pelaku pasar melalui penerapan tata kelola dan transparansi transaksi.
“Kepercayaan pelaku pasar adalah amanah yang kami jaga setiap hari. Setiap transaksi yang kami kliringkan dan jamin berjalan sesuai ketentuan, tercatat dengan baik, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bagi kami, transparansi dan akuntabilitas bukan sekadar komitmen, melainkan standar kerja,” ujar Adiyasa.
Menurutnya, penguatan layanan kliring dan penjaminan dilakukan dengan memastikan seluruh proses berjalan sesuai regulasi, prinsip kehati-hatian, serta tata kelola perusahaan yang baik.
Ekosistem Sistem Resi Gudang Meluas
PT KBI bersama Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI) terus mendorong implementasi SRG melalui kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, dan mitra internasional.
Kolaborasi tersebut memperkuat ekosistem SRG. Sepanjang Januari hingga Oktober 2026, jumlah pengelola gudang baru bertambah 10,6%.
Ekosistem SRG mencakup berbagai komoditas, mulai dari gula, kopi, tembakau, gabah dan beras, hingga rumput laut.
PT KBI juga mendukung peluncuran e-Seaweed Platform di Sulawesi Selatan pada 23–24 September 2026. Inisiatif tersebut merupakan kolaborasi bersama International Labour Organization (ILO) dan Pemerintah Swiss melalui SECO, dengan dukungan OJK serta pemangku kepentingan nasional dan daerah.
Platform ini mencatat aktivitas petani rumput laut secara real time, mulai dari budidaya, transaksi, hingga proses di gudang. Data usaha petani yang terverifikasi diharapkan dapat menjadi dasar pemanfaatan SRG dan memperluas akses pembiayaan.
Sebagai Pusat Registrasi, PT KBI memastikan setiap Resi Gudang tercatat dan terverifikasi melalui Sistem IS-Ware Next Gen.
“Resi Gudang bukan sekadar instrumen penyimpanan, melainkan pintu bagi petani dan pelaku usaha komoditas untuk mengakses pembiayaan dan pasar yang lebih luas. Melalui pengembangan SRG dan pencatatan digital seperti e-Seaweed Platform, data komoditas menjadi lebih terverifikasi dan dapat menjadi fondasi kepercayaan bagi perbankan maupun pembeli,” tambah Adiyasa.
PT KBI Perkuat Pemberdayaan Petani
Selain menjalankan peran dalam industri perdagangan komoditas, PT KBI menghadirkan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang selaras dengan bisnis perusahaan.
Program tersebut diarahkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat, memperkuat ketahanan pangan, serta mendukung pelestarian lingkungan di berbagai daerah.
Salah satu program unggulan adalah Integrated Farming System (IFS): Kemandirian Petani Kedelai. Memasuki tahun ketiga sejak diinisiasi pada 2023, program tersebut telah mencapai Batch ke-4 dan berpusat di Kabupaten Sukoharjo serta Kabupaten Klaten.
Hingga saat ini, IFS melibatkan 73 petani lokal dengan total luas lahan produktif mencapai 10 hektare.
Melalui pendekatan pertanian terpadu, program ini mendorong peningkatan kapasitas petani sekaligus membangun ekosistem usaha pertanian yang lebih mandiri dan bernilai ekonomi.
Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan juga diwujudkan melalui program reforestasi tanaman kopi di Kabupaten Garut.
Program tersebut mengintegrasikan pemulihan lahan kritis melalui penanaman pohon kopi dengan pemberdayaan petani lokal. Upaya ini diharapkan meningkatkan tutupan vegetasi sekaligus memperkuat produktivitas dan nilai ekonomi komoditas kopi bagi masyarakat setempat.
Ke depan, PT KBI akan terus memperkuat kualitas layanan kliring dan penjaminan, mendorong digitalisasi, serta memperluas kolaborasi dengan pemangku kepentingan.
Melalui berbagai langkah tersebut, perusahaan berkomitmen mendukung pasar komoditas nasional yang semakin kredibel, kompetitif, dan berkelanjutan, sekaligus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.