JAKARTA, Cobisnis.com – Walmart berencana memangkas harga setelah menerima pengembalian dana tarif senilai US$2,9 miliar. Refund tersebut menjadi pengembalian dana tarif terbesar yang dilaporkan perusahaan sejauh ini. Walmart menerima dana tersebut di tengah perlambatan belanja konsumen Amerika Serikat.
Dalam tiga bulan yang berakhir pada 31 Juli, Walmart mencatat laba bersih US$6,4 miliar. Kinerja tersebut turut didukung oleh kuatnya belanja online. Namun, pertumbuhan penjualan toko Walmart di AS mulai melambat. Penjualan tanpa memperhitungkan bahan bakar hanya tumbuh 2,6% pada kuartal tersebut.
Angka itu turun dari pertumbuhan 4,6% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menjadi yang terendah sejak Februari hingga April 2020.
Sementara itu, saham Walmart turun lebih dari 9% pada perdagangan awal Kamis. Investor merespons perlambatan penjualan di toko fisik perusahaan.
Walmart kerap menjadi indikator kondisi belanja konsumen Amerika Serikat. Karena itu, perlambatan penjualan menjadi perhatian bagi pasar. Perusahaan menyebut sejumlah faktor memengaruhi kondisi tersebut. Salah satunya ialah penurunan harga obat penurun berat badan GLP-1.
Selain itu, semakin banyak konsumen memilih berbelanja secara online. Harga bahan bakar yang meningkat juga mengurangi kemampuan masyarakat membeli kebutuhan lainnya. Chief Financial Officer Walmart John David Rainey mengatakan kondisi konsumen saat ini lebih lemah dibandingkan Februari.