JAKARTA, Cobisnis.com - Jerome Powell menutup rapat kebijakan terakhirnya sebagai Ketua Federal Reserve pada Rabu (29/4/2026) waktu Amerika Serikat. Delapan tahun, 66 rapat suku bunga, satu pandemi, dan tekanan Trump mewarnai perjalanannya.
Powell tidak langsung pergi setelah jabatan ketua berakhir 15 Mei mendatang. Ia tetap bertahan sebagai Gubernur The Fed hingga penyelidikan Departemen Kehakiman AS terhadap dirinya benar-benar tuntas.
Keputusan itu tidak lazim untuk seorang ketua yang akan lengser. Tapi bagi Powell, ini soal prinsip.
Perjalanannya dimulai dari krisis pandemi Covid-19. Pada 3 Maret 2020, ia gelar rapat darurat dan pangkas suku bunga setengah poin persentase, langkah pertama sejak krisis 2008.
Kurang dari dua minggu setelahnya, rapat darurat digelar lagi di hari Minggu. Suku bunga dipangkas satu poin persentase hingga mendekati nol.
Setelah pandemi mereda, inflasi melonjak ke level tertinggi dalam 40 tahun. Powell memimpin siklus kenaikan suku bunga paling agresif dalam sejarah modern The Fed.
Puncaknya di simposium Jackson Hole Agustus 2022, Powell peringatkan kenaikan suku bunga akan menyakitkan bagi rumah tangga dan pelaku usaha. Dow Jones langsung anjlok 1.000 poin atau 3 persen dalam sehari.
Trump yang awalnya memuji Powell saat mencalonkannya pada 2017 berbalik menyerangnya ketika The Fed mulai naikkan suku bunga. Berbagai julukan menghina dilontarkan secara terbuka.
Di rapat terakhirnya, Powell tahan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Keputusan diambil di tengah ketidakpastian konflik AS, Israel, dan Iran yang dorong harga energi global naik.
Powell menutup era kepemimpinannya dengan satu nilai yang selalu ia pegang. Integritas, katanya, adalah satu-satunya hal yang benar-benar dimiliki seseorang pada akhirnya.