Yield Obligasi Global Melonjak di Tengah Eskalasi Konflik Timur Tengah

Oleh Zahra Zahwa pada 02 Sep 2026, 11:45 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Pasar obligasi global mengalami tekanan pada Selasa. Yield obligasi naik ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi itu sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.

Investor kini memperkirakan bank sentral dapat mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Federal Reserve menjadi salah satu perhatian utama pasar.

Di Jepang, yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun menyentuh 3 persen. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak 1996. Sementara itu, yield obligasi Inggris bertenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 1998. Jerman juga mencatat kenaikan signifikan.

Yield obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak 2011. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terjadi di berbagai pasar utama.

Harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah. Karena itu, ketika investor melepas obligasi, yield akan meningkat. Investor kini menjual obligasi sambil menilai prospek inflasi. Mereka juga mempertimbangkan arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Di sisi lain, harga minyak mulai melonjak pada awal pekan. Pergerakan tersebut semakin memperkuat kekhawatiran pasar terhadap inflasi. Harga minyak Brent, yang menjadi patokan global, kembali naik pada Selasa. Kenaikan terjadi setelah perkembangan terbaru dalam konflik Amerika Serikat dan Iran.

Pejabat Amerika Serikat menyatakan pasukan mereka mulai menyerang target Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC di Iran. Serangan tersebut dimulai pada pukul 12.00 waktu Timur AS.

Konflik tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap pasokan energi global. Karena itu, pasar kembali memperhitungkan kemungkinan tekanan inflasi yang lebih tinggi.

Jika harga energi terus meningkat, bank sentral dapat menghadapi tekanan tambahan. Mereka harus menyeimbangkan pengendalian inflasi dengan risiko perlambatan ekonomi.

Namun, arah kebijakan moneter tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi. Inflasi, pasar tenaga kerja, dan harga energi akan menjadi perhatian investor.

Kondisi tersebut membuat pasar obligasi global semakin sensitif terhadap perkembangan geopolitik. Investor kini menghadapi kombinasi risiko konflik, minyak, inflasi, dan suku bunga.