165 Orang Tewas dalam Bencana Nepal-Tibet, 1.384 Orang Masih Hilang

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 27 Aug 2026, 14:39 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Sebanyak 165 orang tewas dan 1.384 lainnya masih hilang setelah banjir bandang dan longsor menerjang wilayah Nepal dan Tibet pada Rabu, 26 Agustus 2026.

Bencana tersebut terjadi di kawasan kaki Pegunungan Himalaya. Dampaknya meluas hingga wilayah perbatasan Nepal dan China, dengan sejumlah warga asing dilaporkan belum ditemukan.

Badan Bencana Nepal mencatat 826 orang masih belum dapat dihubungi hingga Kamis, lebih dari 24 jam setelah bencana terjadi. Dari jumlah tersebut, sekitar 600 orang merupakan turis asing.

Warga negara asing yang belum ditemukan berasal dari sejumlah negara. Di antaranya terdapat 177 warga India, 63 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 25 warga Kanada.

Sementara itu, pemerintah China melaporkan terdapat 558 orang yang hilang di wilayah Tibet. Sebanyak 260 orang di antaranya merupakan warga asing.

Jika angka dari Nepal dan China digabungkan, total orang yang masih hilang mencapai 1.384 orang. Namun, pihak berwenang belum memastikan apakah terdapat data yang tumpang tindih di antara kedua laporan tersebut.

Banjir bandang dan longsor menerjang kawasan yang memiliki kondisi geografis ekstrem. Sejumlah video yang beredar memperlihatkan air bercampur material longsor menerjang bangunan, rumah, jalan, hingga proyek pembangunan.

Banyak rumah dan kendaraan ikut terendam material longsor. Kondisi tersebut membuat proses pencarian korban menjadi sulit karena sejumlah lokasi tertutup lumpur dan puing.

Otoritas penanggulangan bencana Nepal masih melakukan pencarian dan penyelamatan terhadap korban. Tim di lapangan menghadapi tantangan karena akses menuju sejumlah wilayah terdampak mengalami kerusakan.

Studi awal berdasarkan citra satelit menunjukkan longsoran es dan batuan diduga memicu banjir yang membawa material puing di Sungai Lhende. Lokasi tersebut berada sekitar 20 kilometer timur laut dari perbatasan Nepal dan China di Rasuwagadhi.

Para ahli menilai kondisi topografi Pegunungan Himalaya turut meningkatkan risiko bencana menjadi lebih parah. Kawasan dengan lereng curam dan kondisi geografis ekstrem membuat proses evakuasi serta pencarian korban semakin kompleks.