3 Pola Makan yang Dapat Mengurangi Paparan Bahan Kimia Plastik dalam Tubuh

Oleh Chodijah Febriani pada 03 Oct 2026, 12:35 WIB

Makanan Kaleng - pexels/Towfiqu barbhuiya

JAKARTA, Cobisnis.com - Kekhawatiran tentang paparan bahan kimia terkait plastik semakin meningkat. Maka dari itu, seiring dengan terus dilakukannya penelitian untuk mengkaji potensi dampaknya terhadap kesehatan manusia,  ahli gastroenterologi Dr. Saurabh Sethi membahas cara mengurangi paparan melalui pilihan makanan.
Ia mengatakan, penelitian menunjukkan bahwa seseorang dapat mengurangi jumlah bahan kimia plastik dalam tubuh  hingga 60 persen hanya dalam tujuh hari. BPA dan ftalat yang terpapar setiap hari, dan paparan tersebut secara diam-diam dikaitkan dengan sindrom metabolik, penyakit jantung, dan gangguan hormon.
"Sebuah uji coba terkontrol secara acak di Nature Medicine baru saja membuktikan bahwa kamu juga dapat mengubahnya dalam satu minggu," jelas Sethi dilansir dari Indianexpress, Sabtu(3/20/2026).
Sethi menguraikan tiga perubahan pola makan, dimulai dengan pertama, hindari makanan kaleng. "Lapisan kemasannya melepaskan BPA langsung ke dalam makanan atau minuman yang kamu konsumsi. Ya, termasuk minuman kaleng," katanya.
Ia juga menyarankan, yang kedua, dalah menghindari makanan ultra-olahan. Sereal sarapan, keripik jagung, camilan kemasan.
"Itu adalah paparan ganda. Bahan-bahan olahan dibungkus dalam kemasan plastik," jelas Sethi.
Terakhir, ia menambahkan, dan yang terakhir, hindari kemasan plastik bahkan pada makanan segar. Kontaminasi dimulai sebelum Anda membukanya.
"Jadi, hanya satu minggu dengan pilihan makanan yang lebih cerdas dapat mengurangi beban kimia plastik kamu lebih dari setengahnya," ucapnya.
Seorang ahli menjelaskan apa yang ditunjukkan oleh penelitian, seberapa signifikan pengurangan ini bagi kesehatan, dan langkah-langkah praktis apa yang layak diadopsi.
Dijelaskan Dr. Palleti Siva Karthik Reddy, MBBS, MD, spesialis kedokteran umum, FAIG, Konsultan dokter di Elite Care Clinic, mengatakan, bukti ilmiah yang menghubungkan BPA, ftalat, dan bahan kimia pengganggu endokrin lainnya dengan gangguan metabolisme, penyakit kardiovaskular, dan gangguan hormonal telah meningkat pesat selama dekade terakhir.
Beberapa studi observasional telah menemukan hubungan antara kadar bahan kimia ini yang lebih tinggi dalam tubuh dan peningkatan risiko obesitas, resistensi insulin, diabetes tipe 2, hipertensi, dan masalah kesehatan reproduksi.
"Zat-zat ini dapat mengganggu jalur sinyal hormonal yang mengatur metabolisme , nafsu makan, peradangan, dan fungsi kardiovaskular," ungkap Dr. Reddy.
Dr. Reddy menekankan, sebagian besar bukti pada manusia bersifat observasional, artinya bukti tersebut menunjukkan asosiasi dan bukan sebab akibat langsung.
"Meskipun mekanisme biologis semakin dipahami dengan baik, para peneliti masih berupaya untuk menentukan besarnya risiko yang tepat dan manfaat jangka panjang dari pengurangan paparan."
"Meskipun demikian, mengurangi paparan makanan yang tidak perlu adalah tindakan pencegahan yang bijaksana karena bahan kimia ini tidak memberikan manfaat kesehatan dan berpotensi berbahaya, terutama dengan paparan kumulatif selama bertahun-tahun," terangya.