JAKARTA, Cobisnis.com - Wacana pemerintah menata penyaluran Pertalite agar lebih tepat sasaran dinilai dapat menjadi momentum untuk mendorong pilihan mobilitas yang lebih efisien.
Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI) mendorong sepeda motor listrik menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap BBM sekaligus mendukung efisiensi energi nasional.
Pembahasan mengenai penataan penyaluran Pertalite kembali mengemuka setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bertemu dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Pemerintah tengah mengkaji pembatasan akses Pertalite bagi kelompok masyarakat mampu, termasuk desil 9 dan 10. Penerapannya akan dilakukan secara bertahap setelah sistem pendukung dinilai siap.
Menurut AISMOLI, isu tersebut tidak hanya perlu dilihat dari sisi penataan penerima subsidi. Indonesia juga memiliki peluang untuk mengurangi kebutuhan BBM secara struktural melalui percepatan adopsi kendaraan listrik, khususnya sepeda motor yang menjadi salah satu moda transportasi utama masyarakat.
Data BPS 2025 menunjukkan jumlah sepeda motor di Indonesia mencapai sekitar 139,45 juta unit. Besarnya populasi tersebut membuat peralihan sebagian kendaraan roda dua ke listrik berpotensi memberikan dampak terhadap konsumsi energi nasional.
“Penataan subsidi menjadi momentum yang tepat untuk memperluas pilihan masyarakat. Kalau masyarakat memiliki kendaraan yang lebih efisien untuk kebutuhan sehari-hari, ketergantungan terhadap BBM juga dapat berkurang. Sepeda motor listrik semakin relevan karena biaya operasionalnya lebih rendah dan pilihan produknya semakin beragam,” ujar Ketua Umum AISMOLI Budi Setiyadi.
Potensi Penghematan BBM
Potensi penghematan dari penggunaan sepeda motor listrik dinilai cukup besar. Kementerian ESDM pada 2022 pernah memperkirakan penggunaan 900 ribu sepeda motor listrik dapat mengurangi konsumsi BBM sekitar 320 juta liter per tahun sekaligus menekan kompensasi Pertalite sekitar Rp480 miliar per tahun.
Bagi pengguna, Kementerian ESDM juga memperkirakan penghematan biaya BBM dari penggunaan sepeda motor listrik dapat mencapai sekitar Rp2,68 juta per tahun.
Dengan jumlah kendaraan roda dua di Indonesia yang sangat besar, AISMOLI menilai percepatan adopsi motor listrik dapat menghasilkan penghematan yang lebih signifikan.
Berdasarkan rasio penghematan konsumsi BBM yang pernah dihitung Kementerian ESDM, setiap satu juta sepeda motor yang beralih ke listrik berpotensi mengurangi konsumsi BBM sekitar 356 juta liter per tahun.
Dengan perhitungan tersebut, peralihan 5 juta sepeda motor berpotensi mengurangi kebutuhan BBM sekitar 1,78 miliar liter per tahun. Sementara jika 10 juta sepeda motor beralih ke listrik, potensi pengurangannya mencapai sekitar 3,56 miliar liter per tahun.
Angka tersebut merupakan ilustrasi berdasarkan rasio perhitungan Kementerian ESDM. Realisasinya akan bergantung pada pola penggunaan kendaraan dan jenis BBM yang sebelumnya digunakan.
“Kalau dilakukan dalam skala jutaan kendaraan, manfaatnya bukan hanya dirasakan pemilik motor melalui biaya operasional yang lebih rendah. Negara juga memiliki peluang mengurangi konsumsi BBM dan ruang fiskal yang selama ini diperlukan untuk menjaga harga energi. Karena itu, motor listrik harus mulai dilihat sebagai bagian dari solusi efisiensi energi nasional,” kata Budi.
Ekosistem Kendaraan Listrik Perlu Diperkuat
AISMOLI menilai percepatan adopsi kendaraan listrik harus diikuti dengan ekosistem yang mampu memberikan manfaat kompetitif bagi masyarakat.
Karena itu, peningkatan kualitas dan keselamatan produk perlu berjalan beriringan dengan harga yang semakin terjangkau, ketersediaan suku cadang, jaringan layanan purnajual, infrastruktur pengisian maupun penukaran baterai, serta perlindungan konsumen.
Penguatan industri juga perlu melibatkan berbagai pelaku usaha yang telah berinvestasi dan berkontribusi di Indonesia, mulai dari produsen kendaraan dan baterai, industri komponen, bengkel dan jaringan distribusi, hingga penyedia infrastruktur.
“Peralihan tidak bisa hanya didorong oleh perubahan kebijakan BBM. Masyarakat harus memiliki alasan yang kuat untuk memilih motor listrik: produknya berkualitas, aman, ekonomis, dan mudah digunakan. Tugas industri adalah memastikan seluruh ekosistem itu tersedia,” ujar Budi.
AISMOLI juga mendukung peningkatan penggunaan komponen dalam negeri yang berjalan seiring dengan penguatan kemampuan pemasok lokal. Menurut asosiasi tersebut, kebijakan industri perlu menjaga kompetisi yang sehat dan memberikan ruang bagi seluruh pelaku yang memenuhi standar, melakukan investasi, menciptakan lapangan kerja, membangun layanan, serta memberikan perlindungan kepada konsumen.
Pada akhirnya, AISMOLI menilai penataan subsidi BBM dan percepatan adopsi kendaraan listrik dapat berjalan beriringan. Subsidi dapat semakin diarahkan kepada masyarakat yang membutuhkan, sementara konsumen yang memiliki kemampuan dan kebutuhan untuk beralih dapat memperoleh pilihan mobilitas yang lebih efisien.
“Yang ingin kita bangun bukan sekadar lebih banyak motor listrik di jalan. Kita ingin masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang semakin ekonomis sekaligus membantu Indonesia mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Kalau ekosistemnya semakin kuat, manfaatnya akan dirasakan konsumen, industri, maupun negara,” tutup Budi.