JAKARTA, Cobisnis.com - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali mengalami tiga kali erupsi pada Rabu (28/10/2026) malam. Aktivitas tersebut menunjukkan bahwa gunung api ini masih memiliki pasokan magma dan gas dari dalam bumi.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia (UI) Salemba, Dr. Daryono, menyampaikan bahwa erupsi berulang masih menjadi bagian dari dinamika gunung api aktif. Meski demikian, frekuensi erupsi tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa letusan besar akan terjadi.
"Erupsi yang berulang tidak otomatis berarti akan terjadi letusan besar," kata Daryono, dikutip dari berbagai sumber, Kamis (29/10/2026).
Catatan aktivitas gunung api menunjukkan tiga erupsi terjadi pada pukul 22.37 WIB, 22.42 WIB, dan 23.29 WIB. Pada erupsi terakhir, amplitudo maksimum tercatat mencapai 48 milimeter dengan durasi 573 detik atau sekitar 9 menit 33 detik. Namun, laporan pemantauan tidak merekam adanya visual letusan.
Di sisi lain, kamera CCTV di lapangan dilaporkan tidak beroperasi selama periode pengamatan Kamis, pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Kondisi ini menjadi perhatian dalam upaya memantau perkembangan aktivitas vulkanik secara menyeluruh.
Pemantauan Aktivitas Vulkanik Perlu Diperkuat
Daryono menjelaskan, erupsi terjadi saat tekanan gas dan material vulkanik di dalam gunung meningkat hingga mampu mendorong material keluar melalui kawah. Intensitas aktivitas tersebut dapat berubah, baik meningkat maupun menurun, sehingga perkembangannya perlu terus dipantau.
Penilaian terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak cukup hanya mengandalkan pengamatan visual. Analisis juga perlu mencakup data kegempaan vulkanik, perubahan bentuk tubuh gunung, serta emisi gas untuk mengetahui perkembangan kondisi gunung api.
"Untuk menilai perkembangan aktivitasnya, diperlukan analisis kegempaan vulkanik, deformasi tubuh gunung, emisi gas, serta pengamatan visual," ujarnya.
Gangguan pada perangkat pemantauan juga perlu segera menjadi perhatian. Ketersediaan data yang memadai berperan penting dalam membantu petugas mendeteksi perubahan aktivitas dan menyampaikan peringatan kepada masyarakat dengan cepat.
Masyarakat Pesisir Diminta Tetap Tenang
Masyarakat Pulau Sebesi dan wilayah pesisir Selat Sunda diminta meningkatkan kewaspadaan tanpa diliputi kepanikan. Daryono mengingatkan warga agar mengikuti perkembangan informasi dan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BMKG, BPBD, serta otoritas pelayaran.
"Yang terpenting, sistem pemantauan gunung api harus berfungsi optimal agar setiap perubahan aktivitas dapat terdeteksi sedini mungkin," kata Daryono.
Sesuai rekomendasi pengamatan terbaru, masyarakat dan pengunjung tidak diperbolehkan memasuki kawasan dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi Gunung Anak Krakatau. Pembatasan juga diberlakukan dalam radius satu kilometer dari pulau-pulau baru di sektor barat laut dan tenggara.
Sejumlah potensi bahaya yang perlu diantisipasi meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, hingga erupsi sekunder. Bahaya terakhir dapat terjadi ketika lava panas bersentuhan dengan air laut maupun air hujan.
Daryono menekankan bahwa dampak erupsi terhadap masyarakat sangat bergantung pada kesiapan menghadapi bencana dan efektivitas sistem peringatan dini. Karena itu, informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api harus disampaikan secara akurat dan tepat waktu.
"Keselamatan masyarakat sangat ditentukan oleh kualitas pemantauan, kesiapsiagaan, dan kecepatan penyampaian informasi peringatan dini," ujarnya.
Status Anak Krakatau Masih Siaga
Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Dengan status tersebut, masyarakat, wisatawan, dan pengunjung wajib mematuhi larangan mendekati kawasan dalam radius lima kilometer dari pusat erupsi serta radius satu kilometer dari pulau-pulau baru di sektor barat laut dan tenggara.
Warga di pesisir Lampung dan Banten juga diminta menyikapi informasi terkait aktivitas gunung api secara bijak. Masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai kabar yang mengaitkan erupsi Anak Krakatau dengan tsunami apabila tidak disertai keterangan resmi dari pihak berwenang.
Informasi terbaru dapat dipantau melalui PVMBG, BMKG, BPBD, dan otoritas pelayaran. Masyarakat juga dapat menghubungi Pos Pengamatan Gunung Api Krakatau di Pasauran, Banten, melalui nomor (0254) 651449 atau 085846324506.
Kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan, kesiapsiagaan warga, dan pemantauan aktivitas secara berkelanjutan menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko bencana di sekitar Gunung Anak Krakatau.