Ancaman Middle Income Trap Mengintai RI Jika Ekonomi Melambat, Kata Luhut

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 25 Jun 2026, 14:55 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan Indonesia berisiko terjebak dalam middle income trap apabila pertumbuhan ekonomi tidak mampu dipertahankan di atas 5 hingga 6 persen hingga 2028. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menghambat langkah Indonesia menuju negara maju.

Luhut menjelaskan ancaman itu berkaitan dengan berakhirnya bonus demografi yang diperkirakan terjadi pada 2042. Setelah periode tersebut, jumlah penduduk usia produktif akan mulai menurun dan komposisi penduduk lanjut usia meningkat.

Ia menilai bonus demografi yang selama ini dianggap sebagai peluang bisa berubah menjadi beban apabila ekonomi tidak mampu menciptakan lapangan kerja yang cukup. Produktivitas dan kualitas sumber daya manusia dinilai menjadi faktor penentu.

Menurut Luhut, Indonesia harus memanfaatkan waktu yang tersisa untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Jika tidak, negara berpotensi tetap berada pada kelompok berpendapatan menengah ketika bonus demografi berakhir.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, pemerintah dinilai perlu mempercepat deregulasi, meningkatkan efisiensi birokrasi, dan memperluas pemanfaatan teknologi. Digitalisasi pemerintahan juga dianggap dapat mengurangi praktik yang menghambat pelayanan publik.

Luhut menyebut perkembangan kecerdasan buatan, robotik, dan teknologi humanoid dapat mendukung produktivitas di masa depan. Sejumlah program strategis pemerintah juga diharapkan mampu mendorong konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Meski mengingatkan risiko middle income trap, Luhut tetap optimistis Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Ia meyakini kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat menjadi kunci menuju target Indonesia Emas 2045.