Ancaman Penutupan Selat Hormuz, Menhan AS: Kami Sudah Punya Rencana

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 16 Mar 2026, 08:51 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, menyatakan dunia tidak perlu terlalu khawatir terhadap penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz oleh Iran. Ia menegaskan pemerintah AS telah menangani situasi tersebut meski ketegangan kawasan meningkat.

Pernyataan ini muncul setelah Iran menutup jalur strategis tersebut di tengah konflik militer yang memanas dengan Amerika Serikat. Penutupan Selat Hormuz sempat mengganggu arus pengiriman minyak global dan memicu lonjakan harga energi dunia.

Data pasar menunjukkan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak hingga US$93 per barel pada Jumat, 13 Maret 2026. Angka ini naik tajam dibandingkan level sekitar US$67 per barel sehari sebelum konflik mulai memanas pada 28 Februari.

Lonjakan harga minyak tersebut mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap terganggunya salah satu jalur energi terpenting dunia. Selat Hormuz dikenal sebagai titik transit utama bagi pengiriman minyak dari kawasan Timur Tengah ke pasar global.

Hegseth menyebut tindakan Iran menutup jalur tersebut sebagai bentuk tekanan politik dan militer. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan posisi Iran yang semakin terdesak dalam konflik yang sedang berlangsung.

Ia juga menegaskan bahwa Amerika Serikat telah memiliki rencana untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Namun pemerintah AS belum mengungkap secara rinci strategi militer atau diplomatik yang akan ditempuh.

Menurut Hegseth, hambatan utama yang terjadi saat ini bukanlah kondisi teknis pelayaran, melainkan serangan yang dilancarkan Iran terhadap kapal yang melintas. Situasi ini membuat lalu lintas kapal tanker minyak menjadi lebih berisiko.

Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright sempat menyatakan bahwa angkatan laut AS belum sepenuhnya siap untuk mengawal kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut sempat memicu kekhawatiran pasar energi global.

Namun pernyataan itu kemudian dibantah oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Ia menegaskan bahwa angkatan laut AS bersama koalisi internasional akan mulai melakukan pengawalan militer terhadap kapal yang melintas di jalur tersebut.

Di sisi lain, sejumlah analis pasar masih menilai situasi ini belum sepenuhnya stabil. Laporan dari RBC Capital Markets menyebut masih ada keraguan mengenai kesiapan operasi pengawalan kapal tanker dalam waktu dekat.

Para analis juga menilai kemampuan militer Iran dapat menjadi tantangan besar bagi operasi pengamanan jalur laut tersebut. Situasi ini bahkan dibandingkan dengan ketegangan pada masa Perang Tanker di kawasan Teluk pada dekade 1980-an.

Untuk meredakan kekhawatiran pasar, pemerintah AS melalui US International Development Finance Corp juga menawarkan program asuransi senilai US$20 miliar bagi kapal tanker dan kapal komersial yang beroperasi di jalur tersebut.

Meski begitu, program ini belum sepenuhnya mendapat respons positif dari pelaku pasar. Banyak perusahaan pelayaran dan energi masih menunggu kepastian keamanan sebelum kembali melintasi Selat Hormuz secara normal.