Antrean BBM Memanjang di Teheran Setelah Sanksi Baru AS

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 26 Aug 2026, 13:31 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Antrean panjang kendaraan terlihat di sejumlah SPBU di Teheran, Iran, pada Selasa, 25 Agustus 2026. Warga mengantre untuk mendapatkan bahan bakar setelah Amerika Serikat mengumumkan rangkaian sanksi baru terhadap Iran.

Langkah Washington tersebut menjadi bagian dari tekanan ekonomi untuk mendorong Iran memenuhi tuntutan AS. Tekanan ekonomi meningkat setelah konflik selama enam bulan terakhir mengalami kebuntuan secara militer dan perundingan damai terhenti.

Sebagian warga Teheran mulai khawatir sanksi baru akan semakin menekan kehidupan sehari hari. Iran sendiri telah menghadapi berbagai sanksi selama puluhan tahun.

"Sanksi mempengaruhi kehidupan masyarakat. Orang-orang menderita, baik mereka yang berkecukupan secara finansial maupun mereka yang lemah secara finansial," kata warga Teheran, Mehdi Yazdian, 55 tahun.

Yazdian meminta pemerintah Iran mengendalikan harga di tengah tekanan ekonomi. Menurutnya, masyarakat Iran sudah terbiasa menghadapi sanksi yang telah berlangsung selama 47 tahun.

Antrean kendaraan terlihat di beberapa SPBU di Teheran. Deretan mobil dan sepeda motor harus menunggu untuk mendapatkan pasokan bahan bakar.

Kondisi tersebut terjadi ketika Iran juga menghadapi inflasi tinggi. Tekanan ekonomi sebelumnya telah memicu demonstrasi antipemerintah secara nasional yang mencapai puncaknya pada Januari lalu.

Warga lainnya, Kia Farahani, 45 tahun, menilai dampak perang ke depan lebih banyak terasa melalui tekanan ekonomi. Guru Bahasa Inggris tersebut memperkirakan kondisi itu dapat kembali memicu aksi protes di Iran.

Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan sanksi baru akan memperluas tekanan terhadap Iran. Washington juga meminta negara lain menghentikan interaksi ekonomi dengan Teheran.

Departemen Keuangan AS menyebut sanksi sekunder terbaru menyasar sektor aset digital, teknologi, emas, penerbangan dan pelayaran Iran. Sanksi juga dikenakan terhadap 60 individu, perusahaan dan kapal yang dituding membantu Iran memperoleh pendapatan dari minyak, pengadaan senjata dan operasi siber.

Sanksi tersebut turut menyasar sejumlah entitas di Uni Emirat Arab, Hong Kong, China, Singapura dan Eropa. Langkah ini menunjukkan tekanan ekonomi AS terhadap Iran semakin diperluas ke jaringan yang berada di luar wilayah negara tersebut.