JAKARTA, Cobisnis.com – Publikasi dokumen internal Biro Investigasi Federal (FBI) oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) kembali menyeret nama Jeffrey Epstein ke dalam sorotan. Selain rekam jejaknya sebagai terpidana kejahatan seksual, dokumen tersebut memunculkan kembali dugaan hubungan Epstein dengan organisasi pro-Israel serta spekulasi keterlibatan dalam aktivitas intelijen lintas negara.
Dalam arsip tersebut, Epstein tercatat pernah menyalurkan dana ke Friends of Israel Defense Forces (FIDF) dan Jewish National Fund (JNF). Catatan FBI menunjukkan Epstein menyumbang sebesar US$25.000 kepada FIDF, organisasi yang mengklaim memiliki kewenangan resmi dalam penggalangan dana amal bagi tentara Israel di Amerika Serikat.
Selain FIDF, Epstein juga disebut menyumbangkan dana senilai US$15.000 kepada JNF. Dalam keterangan di situs resminya, JNF menyatakan perannya sebagai organisasi yang berfokus pada pembangunan tanah dan permukiman serta mendukung masa depan masyarakat Israel lintas generasi.
Dokumen tersebut merupakan bagian dari jutaan halaman arsip yang dirilis DOJ dalam beberapa waktu terakhir. Rilis ini memuat berbagai informasi baru terkait kehidupan Epstein, jaringan relasinya, serta dugaan aktivitas di luar perkara kriminal yang menjeratnya.
Salah satu poin paling kontroversial muncul dari kesaksian seorang confidential human source (CHS) atau informan rahasia FBI. Dalam laporan internal pemerintah yang dikutip Anadolu Agency, informan tersebut menyatakan keyakinannya bahwa Epstein merupakan mata-mata Israel.
Menurut dokumen itu, CHS mengingat percakapan di mana pengacara Epstein, Alan Dershowitz, diduga pernah menyampaikan kepada Jaksa Federal Distrik Selatan Florida saat itu, Alexander Acosta, bahwa Epstein memiliki keterkaitan dengan badan intelijen Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya.
Laporan tersebut juga menyebut CHS membagikan rekaman percakapan telepon antara Dershowitz dan Epstein. Disebutkan bahwa setelah komunikasi itu, Mossad diklaim akan menghubungi Dershowitz untuk memberikan pengarahan. Epstein juga disebut memiliki hubungan dekat dengan mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Barak, dan diyakini mendapat pelatihan intelijen di bawah pengaruhnya.
Dalam catatan yang sama, disebutkan pula bahwa Barak pernah menyebut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai sosok bermasalah. Hal tersebut memperkuat keyakinan informan bahwa Epstein direkrut sebagai agen Mossad di tengah dinamika politik dan keamanan kawasan.
Namun, tudingan tersebut langsung dibantah oleh Netanyahu. Melalui pernyataan di media sosial X, ia menegaskan bahwa Epstein tidak pernah bekerja untuk Israel. Netanyahu menyatakan bahwa kedekatan Epstein dengan Ehud Barak tidak dapat dijadikan bukti keterlibatan intelijen dan justru menunjukkan hal sebaliknya.
Rilis dokumen FBI terbaru ini kembali menyeret sejumlah tokoh publik ternama, termasuk Alan Dershowitz, serta figur dari kalangan elite politik dan finansial Amerika Serikat yang sebelumnya juga dikaitkan dengan Epstein.
Jeffrey Epstein ditemukan meninggal dunia di sel tahanan New York pada 2019 saat menunggu persidangan atas dakwaan perdagangan seks. Kematian tersebut memicu berbagai spekulasi karena terjadi di tengah sorotan publik internasional.
Sebelumnya, pada 2008, Epstein mengaku bersalah dalam kasus penyediaan anak di bawah umur untuk prostitusi di Florida. Putusan tersebut menuai kritik luas karena dinilai terlalu ringan, terutama karena disetujui oleh Alexander Acosta. Kesepakatan hukum itu kemudian disebut-sebut sebagai bentuk perlakuan istimewa terhadap Epstein.
Para korban menuduh Epstein menjalankan jaringan perdagangan seks berskala besar yang melibatkan anak di bawah umur serta kalangan elite, yang menjadi dasar utama penyelidikan federal sebelum kematiannya.