AS dan Israel Anggap Iran Musuh, Apa Strategi Sebenarnya?

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 05 Feb 2026, 18:21 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat dan Israel menempatkan Iran sebagai ancaman utama di Timur Tengah, namun strategi kedua negara berbeda. Perbedaan ini semakin terlihat menjelang perundingan program nuklir AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung di Oman, Jumat (6/2/2026).

AS kini lebih condong pada jalur diplomasi meski sebelumnya sempat mengancam serangan akibat tindakan keras terhadap protes di Iran. Sementara Israel mempertahankan pendekatan garis keras, menekankan pelucutan kemampuan nuklir dan rudal Iran, bahkan tidak menutup opsi perubahan rezim.

Perbedaan taktik ini menciptakan ketegangan di antara sekutu dekat. Israel berada di garis depan risiko balasan jika terjadi konfrontasi militer, sedangkan AS menghindari perang panjang di kawasan yang sudah rawan konflik.

Jarak Israel ke Iran sekitar 2.000 kilometer, sehingga jika AS menyerang Teheran, Israel berpotensi menjadi target balasan langsung. Hal ini menimbulkan perdebatan di dalam negeri Israel, di mana survei menunjukkan 50% warga hanya mendukung serangan sebagai balasan, sementara 44% setuju jika aksi dilakukan bersama AS.

Selain pertimbangan strategis, kepentingan politik domestik juga memengaruhi pendekatan masing-masing negara. AS cenderung menghindari konflik berkepanjangan demi stabilitas politik dalam negeri, sedangkan Israel menggunakan isu ancaman Iran untuk memperkuat posisi politik domestik pemimpinnya.

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran dan Israel telah menjadi musuh bebuyutan. Tahun lalu, kedua negara terlibat perang selama 12 hari akibat serangan Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran. AS sempat ikut membombardir tiga situs nuklir sebelum gencatan senjata diberlakukan.

Ketegangan meningkat sejak April 2024 ketika Iran meluncurkan serangan drone dan rudal besar-besaran ke Israel sebagai balasan atas serangan mematikan terhadap konsulat Iran di Damaskus. Pada Oktober 2025, Iran kembali menembakkan sekitar 200 rudal ke wilayah Israel terkait pembunuhan pemimpin Hamas dan Hizbullah.

Perundingan AS-Iran berpotensi menghasilkan kesepakatan jika Iran menghentikan program nuklir militernya, membatasi produksi rudal balistik, dan mengakui hak Israel untuk eksis. Namun syarat tersebut dinilai sulit tercapai karena perbedaan pendekatan fundamental antara kedua sekutu.

Secara garis besar, Israel lebih memilih tekanan militer dan kekuatan keras, sementara AS lebih condong pada jalur diplomasi. Perbedaan ini menyoroti kompleksitas stabilitas geopolitik Timur Tengah dan tantangan diplomasi internasional.

Hasil perundingan nuklir yang akan berlangsung di Oman menjadi momen penting yang menentukan apakah jalur diplomasi bisa meredam ketegangan atau justru memicu konflik lebih lanjut di kawasan tersebut.