JAKARTA, Cobisnis.com – Para peneliti penyakit menular mengidentifikasi virus zoonosis baru yang ditularkan dari kelelawar pada manusia di Bangladesh. Virus tersebut diberi nama Pteropine orthoreovirus atau PRV.
PRV ditemukan pada sampel usap tenggorok dan kultur virus yang diarsipkan dari lima pasien. Seluruh pasien sebelumnya diduga terinfeksi virus Nipah, namun hasil pemeriksaan menunjukkan negatif.
Temuan ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Emerging Infectious Diseases edisi Desember 2025. Studi tersebut menambah daftar virus zoonosis yang terdeteksi pada manusia di Bangladesh.
Kelima pasien dirawat pada periode Desember 2022 hingga Maret 2023 dengan gejala yang menyerupai infeksi Nipah, seperti demam, muntah, sakit kepala, kelelahan, peningkatan air liur, hingga gangguan neurologis.
Hasil pemeriksaan PCR dan serologi memastikan seluruh pasien tidak terinfeksi virus Nipah. Peneliti kemudian menggunakan metode high-throughput agnostic viral capture sequencing untuk menganalisis sampel biologis.
Dari analisis tersebut, sekuens PRV berhasil diidentifikasi. Virus aktif juga berhasil dikultur dari tiga sampel, menunjukkan adanya virus infeksius yang masih hidup.
Seluruh pasien diketahui sempat mengonsumsi nira kurma mentah, cairan manis yang juga sering dikonsumsi oleh kelelawar. Jalur konsumsi ini selama ini dikenal sebagai salah satu sumber penularan virus Nipah di Bangladesh.
Peneliti menegaskan bahwa risiko kesehatan dari konsumsi nira kurma mentah tidak hanya terbatas pada virus Nipah. Temuan ini menunjukkan adanya potensi ancaman zoonosis lain yang belum sepenuhnya terdeteksi.
Kelelawar diketahui sebagai reservoir alami berbagai virus zoonosis, termasuk rabies, Nipah, Hendra, Marburg, dan SARS-CoV-1. PRV kini menambah daftar virus yang perlu diwaspadai.
Dalam penelitian lanjutan, peneliti juga menemukan virus PRV yang secara genetik serupa pada kelelawar yang ditangkap di sekitar wilayah tempat kasus manusia ditemukan, yakni di Daerah Aliran Sungai Padma.
Temuan ini memperkuat hubungan antara reservoir kelelawar dan infeksi pada manusia, serta menegaskan pentingnya pengawasan penyakit menular berbasis ekosistem.