JAKARTA, Cobisnis.com - Proses perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran disebut sempat dibayangi ancaman baru. Laporan media Amerika Serikat menyebut Israel diduga berencana menargetkan dua pejabat tinggi Iran yang terlibat dalam negosiasi.
Informasi tersebut diungkap The New York Times yang mengutip sejumlah pejabat AS aktif maupun mantan pejabat yang mengetahui perkembangan situasi. Dua tokoh yang disebut menjadi sasaran adalah Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf.
Menurut laporan itu, rencana tersebut diduga muncul pada pekan awal setelah gencatan senjata diberlakukan pada awal April 2026. Saat itu, pembicaraan antara Washington dan Teheran yang dimediasi Pakistan disebut semakin intensif.
Para pejabat AS dikabarkan khawatir langkah tersebut dapat menggagalkan proses diplomasi yang sedang berjalan. Washington kemudian meminta sejumlah negara sekutu di Timur Tengah memperingatkan Iran mengenai potensi ancaman terhadap tim negosiatornya.
Amerika Serikat juga disebut mendesak Israel agar tidak melaksanakan rencana tersebut. Pemerintah AS menilai pembunuhan terhadap negosiator Iran berpotensi memicu kembali eskalasi konflik yang lebih luas.
Laporan itu juga menyebut Iran meminta jaminan keamanan kepada Amerika Serikat melalui mediator Pakistan dan Qatar. Permintaan tersebut diajukan agar tim negosiasi mereka tidak menjadi sasaran selama proses diplomatik berlangsung.
Ancaman terhadap Ghalibaf disebut sempat muncul saat ia kembali dari Islamabad menuju Teheran pada 12 April 2026. Pesawat yang ditumpanginya dilaporkan mengubah rute setelah menerima informasi intelijen mengenai potensi serangan, sementara dua jet tempur Israel disebut sempat terdeteksi memasuki wilayah udara Iran dari arah Irak. Hingga kini, pembahasan menuju kesepakatan damai masih berlanjut dan belum ada indikasi Israel akan bergabung dalam proses tersebut.