JAKARTA, Cobisnis.com – Amerika Serikat mengerahkan lebih dari 50 jet tempur ke kawasan Timur Tengah dalam 24 jam terakhir. Langkah ini menandai peningkatan kesiapan militer di tengah ketegangan dengan Iran.
Pengerahan tersebut berlangsung bersamaan dengan perundingan penting terkait program nuklir Iran yang sedang berlangsung di Jenewa. Situasi ini menunjukkan jalur diplomasi dan tekanan militer berjalan beriringan.
Pesawat tempur yang dipindahkan mencakup F-35A, F-22 Raptor, F-16 Fighting Falcon, hingga F-15E Strike Eagle. Pesawat peringatan dini dan tanker pengisian bahan bakar udara turut mendukung operasi jarak jauh ini.
Data pelacakan penerbangan terbuka menunjukkan sejumlah jet tempur melintasi Atlantik dan singgah di pangkalan transit strategis sebelum menuju Timur Tengah. Pergerakan ini menegaskan kesiapan mobilisasi cepat militer AS.
Selain kekuatan udara, Washington juga memperkuat armada laut di kawasan tersebut. Kapal induk dan kelompok tempur pendukungnya ditempatkan dalam jarak strategis dari wilayah Iran.
Langkah militer ini dipandang sebagai upaya pencegahan terhadap potensi eskalasi konflik. Kehadiran kekuatan militer besar dapat berfungsi sebagai sinyal deterrence sekaligus perlindungan terhadap kepentingan sekutu di kawasan.
Di sisi lain, perundingan nuklir masih berlangsung dengan harapan tercapai kesepakatan baru. Namun perbedaan posisi antara pihak-pihak terkait menunjukkan proses negosiasi masih panjang.
Ketegangan meningkat setelah Iran menggelar latihan militer di Selat Hormuz dan sempat membatasi jalur pelayaran. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi global.
Pasar energi dunia merespons dinamika tersebut dengan hati-hati. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar sepertiga pengiriman minyak dunia melalui laut.
Situasi ini menunjukkan keseimbangan rapuh antara diplomasi dan kekuatan militer. Perkembangan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan ke depan akan sangat menentukan stabilitas geopolitik dan ekonomi global.