AS Tegur Ukraina Atas Serangan Fasilitas Minyak Laut Hitam yang Terdampak Investasi Amerika

Oleh Zahra Zahwa pada 26 Feb 2026, 09:14 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Pemerintahan Presiden Donald Trump mengambil langkah diplomatik tidak biasa dengan memperingatkan pemerintah Ukraina bahwa serangan terhadap fasilitas minyak Rusia di Laut Hitam tahun lalu turut berdampak pada investasi Amerika Serikat di Kazakhstan. Duta Besar Ukraina untuk AS, Olga Stefanishyna, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima demarche atau nota diplomatik resmi dari US Department of State terkait serangan tersebut.

“Kami mendengar bahwa serangan Ukraina ke Novorossiysk memengaruhi sejumlah investasi Amerika yang dijalankan melalui Kazakhstan. Dan kami mendapat pesan dari Departemen Luar Negeri bahwa kami sebaiknya menahan diri untuk tidak menyerang kepentingan Amerika,” ujar Stefanishyna dalam pengarahan kepada media. Ia menegaskan bahwa AS tidak meminta Ukraina berhenti menyerang target militer atau infrastruktur energi Rusia secara umum. Teguran tersebut secara spesifik berkaitan dengan dampak terhadap kepentingan ekonomi Amerika.

Pada akhir November lalu, drone Ukraina menyerang pelabuhan Laut Hitam di Novorossiysk, merusak fasilitas Rusia serta jalur pipa penting yang menyebabkan penurunan signifikan ekspor minyak Kazakhstan. Perusahaan energi Chevron merupakan pemegang saham utama dalam Caspian Pipeline Consortium, yang menyalurkan minyak dari ladang Kazakhstan ke Laut Hitam untuk ekspor global.

Langkah diplomatik ini terjadi di tengah berlanjutnya perang Rusia-Ukraina yang kini memasuki tahun kelima. Upaya perundingan damai yang dimediasi AS belum menunjukkan terobosan berarti. Sebelumnya, pemerintahan Trump juga menghentikan bantuan militer baru untuk Kyiv. Stefanishyna menyoroti bahwa AS memiliki kepentingan ekonomi lebih besar di Kazakhstan dibandingkan di Ukraina.

“Saya sangat menyesal bahwa dalam 35 tahun kemerdekaan Ukraina, dengan begitu banyak peluang, kami belum mampu menciptakan situasi di mana kami memiliki posisi ekonomi yang sama kuatnya,” ujarnya.

Kebijakan luar negeri pemerintahan Trump memang menempatkan investasi ekonomi dan energi sebagai prioritas utama. Tahun lalu, AS dan Ukraina menandatangani perjanjian kemitraan ekonomi yang memberikan akses Washington terhadap sumber daya mineral Ukraina sebagai imbalan pembentukan dana investasi di negara tersebut. Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan berharap AS tetap berada di pihak Ukraina dalam konflik melawan Rusia.

“Jika mereka benar-benar ingin menghentikan Putin, Amerika sangat kuat,” kata Zelensky. Namun ketika ditanya apakah ia merasa Trump telah memberi cukup tekanan kepada Presiden Rusia, ia menjawab singkat, “Tidak.”

Stefanishyna juga mendesak anggota parlemen AS untuk segera meloloskan undang-undang yang memperketat sanksi terhadap Moskow. Menurutnya, setiap penundaan akan dipandang sebagai kemenangan bagi Rusia.

“Jika kami mampu menjatuhkan lebih banyak sanksi dan tekanan terhadap Rusia, mereka tidak akan berada dalam posisi untuk menarik diri dari negosiasi,” tegasnya. Hingga kini, perundingan antara Ukraina, Rusia, dan AS belum menghasilkan kesepakatan konkret, sementara serangan terhadap infrastruktur sipil Ukraina terus berlanjut.