JAKARTA, Cobisnis.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah sebuah kapal induk AS menembak jatuh drone Iran yang disebut “mendekat secara agresif” di Laut Arab, Selasa waktu setempat. Insiden ini terjadi hanya beberapa jam sebelum dua kapal cepat milik Garda Revolusi Iran mendekati sebuah kapal tanker berbendera AS di Selat Hormuz dan mengancam akan menyitanya.
Menurut juru bicara Komando Pusat AS, Kapten Tim Hawkins, drone Iran tersebut terus terbang menuju USS Abraham Lincoln meskipun pasukan AS telah melakukan langkah-langkah deeskalasi di perairan internasional. Sebuah jet tempur F-35C yang lepas landas dari kapal induk akhirnya menembak jatuh drone tersebut demi melindungi kapal dan personel di dalamnya.
Tidak ada korban di pihak AS dan tidak ada peralatan militer yang rusak. Media Iran yang berafiliasi dengan pemerintah, Tasnim News Agency, mengonfirmasi bahwa Iran kehilangan kontak dengan sebuah drone milik Garda Revolusi saat menjalankan misi pengintaian di perairan internasional Laut Arab. Penyebab hilangnya kontak tersebut masih diselidiki.
Beberapa jam setelah insiden drone, dua kapal cepat Iran kembali meningkatkan ketegangan dengan mendekati kapal tanker kimia M/V Stena Imperative yang dioperasikan oleh perusahaan Amerika dan berlayar di bawah bendera AS di Selat Hormuz. Kapal-kapal Iran tersebut melintas dengan kecepatan tinggi dan bahkan mengancam melalui radio akan menaiki serta menyita tanker tersebut. Sebuah drone Iran juga terpantau terbang di atas kapal.
Militer AS merespons cepat dengan mengerahkan kapal perusak USS McFaul untuk mengawal tanker keluar dari area berbahaya, didukung perlindungan udara dari Angkatan Udara AS. Situasi kemudian mereda.
Kapten Hawkins menyebut tindakan Iran sebagai perilaku tidak profesional dan agresif yang meningkatkan risiko salah perhitungan di jalur pelayaran internasional. Ia menegaskan bahwa pelecehan semacam itu tidak akan ditoleransi oleh Amerika Serikat.
Insiden ini terjadi di tengah rencana perundingan diplomatik antara AS dan Iran yang dijadwalkan berlangsung Jumat mendatang, dengan tujuan mencegah eskalasi militer. Namun, pembicaraan tersebut dilaporkan menemui hambatan setelah Iran meminta perubahan lokasi, pembatasan peserta regional, serta fokus perundingan hanya pada isu nuklir.
Gedung Putih menyatakan bahwa pertemuan tersebut masih dijadwalkan, meskipun Presiden Donald Trump tetap membuka semua opsi, termasuk penggunaan kekuatan militer. Dalam beberapa hari terakhir, AS juga mempercepat pengerahan kekuatan militernya ke Timur Tengah, termasuk kelompok tempur kapal induk Abraham Lincoln dan sejumlah kapal perusak berpeluru kendali.
Permintaan baru dari Teheran dinilai dapat mempersulit upaya diplomatik negara-negara sekutu AS di Timur Tengah yang berusaha meredakan ketegangan kawasan. Meski demikian, Washington menegaskan tetap membuka jalur dialog sambil mempertahankan tekanan militer.