Asap Karhutla Menyeberang ke Malaysia, 108 Sekolah Terhenti

Oleh Hidayat Taufik pada 20 Aug 2026, 15:22 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Sebanyak 108 sekolah di Serian, Sarawak, Malaysia, terpaksa menghentikan kegiatan belajar tatap muka sementara waktu akibat kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.

Langkah tersebut diambil setelah kualitas udara di kawasan Serian memburuk dan Indeks Pencemaran Udara (API) mencapai level yang dinilai tidak sehat bagi masyarakat.

Mengutip Bernama, Kamis (20/8/2026), Komite Manajemen Bencana Negara Bagian Sarawak (JPBN) mengatakan proses pembelajaran tetap dilaksanakan melalui Pembelajaran dan Pengajaran Berbasis Rumah (PdPR).

Pengalihan pembelajaran ke rumah dilakukan untuk memastikan kegiatan pendidikan siswa tetap berlangsung selama kondisi udara belum membaik.

"Berdasarkan Rencana Aksi Kabut Nasional, yang berada di bawah yurisdiksi direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian Sarawak, sekolah, taman kanak-kanak, dan tempat penitipan anak akan segera ditutup begitu API mencapai 200," kata JPBN Sarawak dalam pernyataannya, Kamis (20/07/26).

Dalam sistem API, angka 0-50 menunjukkan kualitas udara berada dalam kondisi baik. Sementara itu, angka 51-100 masuk kategori sedang dan 101-200 dikategorikan tidak sehat.

Adapun angka 201-300 menunjukkan kondisi udara sangat tidak sehat. Jika API berada di atas 300, kualitas udara masuk kategori berbahaya.

JPBN Sarawak menyatakan kualitas udara di sejumlah wilayah Sarawak mengalami tren memburuk sejak 1 Agustus 2026.

Hingga pukul 16.00 waktu setempat, Tebedu dan Serian tercatat memiliki kualitas udara dalam kategori sangat tidak sehat. API di Tebedu mencapai 212, sedangkan Serian berada pada angka 202.

Selain kedua wilayah tersebut, terdapat 11 daerah yang masuk kategori tidak sehat. Daerah tersebut meliputi Kuching, Samarahan, Sri Aman, Sarikei, Sibu, Bintulu, Samalaju, Miri, Lundu, Lubok Antu, dan Lawas.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.

JPBN juga meminta kelompok rentan lebih berhati-hati terhadap paparan kabut asap. Kelompok tersebut meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit jantung.

"Kelompok berisiko tinggi, termasuk anak-anak, lansia, ibu hamil, dan individu dengan masalah pernapasan atau jantung, harus membatasi paparan mereka terhadap udara yang tercemar," ujarnya.