BI Buka Suara! Ini 4 Faktor yang Bikin Rupiah Makin Tertekan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 28 Oct 2026, 19:20 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Nilai tukar rupiah tertekan hingga mendekati Rp18.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Bank Indonesia (BI) menyebut pelemahan ini dipengaruhi ketidakpastian konflik Timur Tengah, penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, serta kekhawatiran terhadap klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pergerakan rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah. Situasi tersebut turut menjaga harga minyak dunia di atas US$115 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan.

Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga AS ikut meningkat. Kondisi ini menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang karena investor cenderung memilih aset yang dinilai lebih aman.

BI juga melihat sentimen risk-off mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar dana dari pasar negara berkembang. Tekanan tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi.

Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut memengaruhi aliran modal. Kebutuhan valuta asing yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan terhadap rupiah.

BI mencatat pelemahan rupiah secara bulanan mencapai 1,15%. Pergerakannya dinilai masih sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan.

Di tengah tekanan tersebut, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar US$146,3 miliar pada akhir September 2026. BI menyatakan cadangan devisa masih terjaga di tengah dinamika pasar keuangan global.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI terus melakukan intervensi melalui sejumlah instrumen. Langkah tersebut mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), transaksi spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya. Upaya ini dilakukan untuk menjaga mekanisme pasar tetap berjalan baik dan memastikan nilai tukar bergerak sesuai fundamentalnya.

Pada perdagangan Rabu (28/10/2026), rupiah ditutup di level Rp18.184 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 28 poin atau 0,15% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.

Pelemahan rupiah menunjukkan tekanan yang berasal dari faktor eksternal dan domestik secara bersamaan. Perkembangan harga minyak, arah kebijakan suku bunga AS, arus modal asing, serta sentimen terhadap pasar keuangan Indonesia menjadi sejumlah faktor yang terus dipantau.