Ekspor Gas RI Dipangkas 8%, Singapura Siapkan Strategi Baru

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 29 Oct 2026, 11:05 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Singapura mengandalkan terminal gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) untuk menghadapi pengurangan pasokan gas dari Indonesia. Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menyatakan negaranya telah mendiversifikasi sumber pasokan energi sehingga berada dalam posisi yang kuat.

Pernyataan itu disampaikan Vivian setelah bertemu Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (28/10/2026). Ia menyebut kesiapan infrastruktur LNG menjadi bagian dari strategi Singapura menjaga ketahanan energi di tengah perubahan pasokan gas.

Vivian juga menekankan pentingnya Indonesia dan Singapura menghormati kontrak gas yang telah disepakati. Menurutnya, komitmen tersebut penting bagi kredibilitas dan daya saing ekonomi kedua negara.

Ia menilai penghormatan terhadap kewajiban kontraktual tidak hanya berkaitan dengan persoalan pasokan gas saat ini. Prinsip tersebut juga menjadi dasar kepercayaan dalam hubungan ekonomi bilateral.

Sebelumnya, Indonesia mengurangi ekspor gas pipa ke Singapura sebesar 31 BBTUD atau sekitar 8% dari total pasokan. Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut total ekspor gas pipa Indonesia ke Singapura mencapai 409,55 BBTUD.

Pasokan gas tersebut berasal dari dua wilayah, yakni Laut Natuna dan Sumatera. Pengurangan ekspor dilakukan karena adanya pemeliharaan fasilitas serta meningkatnya kebutuhan gas di dalam negeri.

Bahlil menjelaskan pemeliharaan fasilitas atau penghentian operasi sementara menjadi salah satu faktor penyesuaian pasokan. Selain itu, pemerintah perlu mempertimbangkan kebutuhan domestik yang turut meningkat.

Di sisi Singapura, diversifikasi pasokan dan kesiapan terminal LNG menjadi alternatif untuk menjaga ketersediaan energi. Langkah tersebut memberi ruang bagi negara itu untuk mengandalkan sumber pasokan yang lebih beragam.

Meski demikian, kedua negara tetap menekankan pentingnya menjaga komitmen kontrak yang telah disepakati. Sikap tersebut menjadi perhatian di tengah kebutuhan Indonesia memenuhi permintaan domestik dan upaya Singapura menjaga ketahanan energinya.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa pengelolaan pasokan gas tidak hanya berkaitan dengan volume ekspor, tetapi juga kebutuhan energi dan hubungan ekonomi antarnegara. Ke depan, koordinasi kedua pihak menjadi penting agar kepentingan domestik tetap berjalan tanpa mengabaikan komitmen kerja sama yang berlaku.