BI Ungkap Efek MSCI, Dana Asing Keluar dari Pasar Saham dan SBN

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 23 Oct 2026, 18:24 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) menerbitkan consultative paper terkait usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan arus modal asing sebelumnya masih menunjukkan perkembangan positif sejak akhir September hingga pertengahan Oktober 2026. Namun, kondisi tersebut berubah setelah pengumuman MSCI.

“Memang sejak akhir September sampai dengan pertengahan Oktober itu kalau kita lihat arus masuk kita lumayan bagus, cuma belakangan dengan adanya consultative paper dari MSCI ini kelihatannya memang kita menghadapi arus keluar,” kata Erwin, Jumat (23/10/2026).

Arus keluar tersebut tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga merambah Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). BI tidak mengungkapkan angka pasti dana asing yang keluar dari pasar keuangan.

Sebelum terjadi arus keluar, kebijakan insentif BI yang diluncurkan sejak Juni mendorong masuknya aset rupiah sekitar Rp137 triliun hingga Rp138 triliun. Jumlah tersebut terdiri dari sekitar Rp85 triliun pada SRBI dan Rp53 triliun pada SBN.

Selain itu, transaksi swap tercatat hampir US$8,4 miliar, sedangkan transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) mencapai sekitar US$1,4 miliar. BI menyatakan tetap menjaga kecukupan likuiditas rupiah untuk mendukung transaksi di pasar domestik.

Erwin mengatakan BI siap menggunakan instrumen operasi moneter apabila arus keluar modal memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Instrumen yang dapat digunakan antara lain Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan intervensi di pasar valuta asing.

Menurut Erwin, rupiah sempat bergerak di atas Rp18.000 per dolar AS, tetapi pergerakannya masih dinilai dapat dikelola. BI akan merespons apabila tekanan nilai tukar bergerak di luar batas yang dapat ditoleransi.

Di sisi lain, BI melanjutkan normalisasi operasi moneter dengan mengurangi likuiditas yang diserap melalui SRBI. Posisi instrumen tersebut sebelumnya mencapai puncak sekitar Rp1.070 triliun dan kini turun ke kisaran Rp900 triliun.

Penurunan itu berarti BI telah melepaskan likuiditas sekitar Rp150 triliun dibandingkan posisi tertingginya. Langkah tersebut dilakukan secara bertahap dan terukur untuk menjaga keseimbangan likuiditas jangka panjang, menengah, dan pendek.

BI menyatakan kalibrasi penerbitan SRBI akan terus mempertimbangkan dinamika pasar. Kebijakan ini diharapkan menjaga ketersediaan likuiditas di pasar uang sekaligus memperkuat transmisi kebijakan moneter.