JAKARTA, Cobisnis.com - Bank Mandiri membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,5 triliun hingga kuartal III 2026, tumbuh 20,7 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Kinerja ini ditopang ekspansi kredit berbasis ekosistem, peningkatan transaksi digital, serta produktivitas bisnis yang terus membaik.
Dalam paparan kinerja keuangan pada Jumat (23/10/2026), Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyampaikan bahwa kredit Bank Mandiri secara bank only mencapai Rp1.605,8 triliun per September 2026, tumbuh 16 persen YoY.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp1.750,2 triliun, meningkat 17,7 persen YoY. Sementara itu, total aset Bank Mandiri mencapai Rp2.404,1 triliun atau naik 20,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan bisnis tersebut menjangkau berbagai sektor dalam ekosistem perekonomian nasional, mulai dari pemerintah dan BUMN, sektor usaha penopang ekonomi, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta masyarakat. Dukungan diberikan melalui pembiayaan pembangunan dan layanan publik, penguatan daya saing pelaku usaha, serta penyaluran kredit usaha mikro non-subsidi yang telah menjangkau 37 provinsi.
Bank Mandiri juga membagikan dividen sebesar Rp50,6 triliun sepanjang 2026, termasuk dividen interim tahun buku 2026 senilai Rp6,16 triliun. Pembagian tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, kekuatan permodalan, dan imbal hasil bagi investor.
Komitmen menciptakan nilai jangka panjang turut tercermin dari sejumlah penghargaan yang diraih Bank Mandiri sepanjang 2026. Penghargaan tersebut antara lain predikat Grand Champion dan Financial Services Champion dalam Danantara Indonesia CX100 Awards 2026, Asia’s Best SME Banking Ecosystem pada Euromoney Awards for Excellence 2026, serta Best Sustainable Bank pada FinanceAsia Awards 2026.
Novita menyampaikan apresiasi atas kepercayaan nasabah yang menjadi bagian penting dari pencapaian tersebut.
“Penghargaan ini menjadi pengingat bagi kami untuk terus menjaga kepercayaan nasabah, meningkatkan kualitas layanan, dan mengembangkan inovasi. Kami berharap Bank Mandiri dapat terus memberikan nilai tambah bagi nasabah sekaligus membawa layanan perbankan Indonesia semakin dikenal di tingkat global,” pungkas Novita.
Bank Mandiri terus memperluas pembiayaan melalui pendekatan berbasis ekosistem yang menghubungkan kebutuhan perusahaan dengan pelaku usaha dan individu. Per September 2026, kredit korporasi mencapai Rp700 triliun, tumbuh 22 persen YoY.
Direktur Operations Bank Mandiri Timothy Utama menjelaskan bahwa layanan yang terhubung mendukung kebutuhan transaksi dan pembiayaan nasabah dalam ekosistem tersebut. Kredit ekosistem turunan yang mencakup segmen usaha kecil dan menengah (SME), mikro, serta konsumer mencapai Rp174 triliun, tumbuh 9 persen YoY.
Pada segmen usaha mikro, kredit non-subsidi Bank Mandiri tercatat Rp31,2 triliun per September 2026, meningkat 12,9 persen YoY. Pembiayaan ini telah menjangkau 37 provinsi untuk mendukung usaha produktif dan kegiatan ekonomi masyarakat.
Secara bank only, pertumbuhan kredit di Bali dan Nusa Tenggara mencapai 10,3 persen YoY. Sementara itu, kredit di Jawa dan Daerah Istimewa Yogyakarta tumbuh 5,97 persen, sedangkan di Sumatera meningkat 5,09 persen.
“Kami menghubungkan layanan bagi perusahaan, pelaku UMKM, dan nasabah individu agar kebutuhan transaksi serta pembiayaan mereka dapat terlayani dengan lebih baik. Dengan dukungan operasional yang andal, pendekatan ini membuka akses bagi usaha untuk berkembang dan memperluas kegiatan ekonomi di daerah,” ujar Timothy.
Selain memperluas pembiayaan, Bank Mandiri menjalankan transformasi layanan untuk meningkatkan pengalaman nasabah di kantor cabang, contact center, dan kanal digital. Hingga September 2026, jumlah keluhan nasabah turun 74 persen dibandingkan Juli 2025. Waktu tunggu antrean di kantor cabang juga semakin singkat, sementara nasabah dapat terhubung dengan contact center lebih cepat tanpa dikenai biaya. Di sisi pembiayaan, hampir seluruh proses penilaian agunan dapat diselesaikan dalam dua hari kerja.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Livin’ Call, layanan contact center yang dapat diakses langsung melalui aplikasi Livin’ by Mandiri. Layanan ini memungkinkan nasabah terhubung dengan petugas dalam hitungan detik tanpa memerlukan pulsa atau biaya telepon.
“Nasabah adalah pusat dari setiap langkah transformasi kami. Kami ingin setiap nasabah merasakan layanan yang cepat, tepat, dan memberikan solusi yang nyata di setiap touchpoint. Melalui inovasi digital dan perbaikan layanan yang berkelanjutan, kami berkomitmen terus menghadirkan personalized and delightful experience di setiap interaksi, sehingga dapat menjaga kepercayaan dan loyalitas nasabah dalam jangka panjang,” ujar Timothy.
Bank Mandiri juga mengembangkan bisnis bullion untuk memperluas akses masyarakat terhadap investasi emas. Sebagai bank konvensional pertama di Indonesia yang mengantongi izin bank bullion, Bank Mandiri menghadirkan layanan Tabungan Emas, pembiayaan melalui KSM Emas, serta pengambilan emas fisik dalam satu ekosistem.
Melalui Livin’ by Mandiri, nasabah dapat membuka tabungan emas dengan pembelian awal mulai dari 0,02 gram. Transaksi pembelian berikutnya dapat dilakukan mulai dari 0,005 gram, sedangkan penjualan emas dapat dimulai dari 0,01 gram. Layanan tabungan emas ini dapat diakses selama 24 jam secara real-time.
Sementara itu, KSM Emas menyediakan fasilitas kredit untuk pembelian emas dengan mekanisme cicilan. Nasabah juga dapat mengambil emas fisik dari saldo tabungan emas melalui 28 ATM Emas dan 458 cabang yang dapat dipilih melalui Livin’. Pilihan produk emas yang tersedia mencakup ANTAM LM dan HRTA GOLD.
“Melalui bisnis bullion, kami ingin memudahkan masyarakat mengakses layanan emas yang terintegrasi melalui Livin by Mandiri, mulai dari menabung, cicil emas, hingga ambil emas fisik dari tabungan emas. Pengembangan ini melengkapi layanan Bank Mandiri sesuai kebutuhan finansial nasabah yang semakin beragam,” ujar Sunarto.
Di sisi digital, Livin’ by Mandiri memiliki 42,6 juta pengguna terdaftar per September 2026. Sepanjang Januari hingga September 2026, aplikasi tersebut mencatat 4,18 miliar transaksi senilai Rp3.863 triliun. Volume transaksi tumbuh 22 persen, sedangkan nilainya meningkat 20 persen YoY.
Pengembangan Livin’ by Mandiri mencakup kebutuhan menabung, bertransaksi, memperoleh pembiayaan, berinvestasi, hingga berbagai solusi gaya hidup yang terhubung dengan ekosistem Bank Mandiri. Pengembangan tersebut diwujudkan melalui tujuh fitur terbaru, yaitu QR+, e-Deposito, Livin’ Next-G+, Kredit Agunan Deposito, Kredit Agunan SBN, KSM Emas, dan Tabungan Emas.
Selain menambah fitur, Bank Mandiri menghadirkan personalisasi melalui pengaturan fitur, widget, pilihan penyedia layanan pembayaran, serta notifikasi agar nasabah dapat mengakses layanan sesuai kebutuhan.
Untuk nasabah bisnis, Kopra by Mandiri memiliki 406 ribu pengguna terdaftar. Sepanjang Januari hingga September 2026, nilai transaksi platform tersebut mencapai Rp22.801 triliun, tumbuh 17 persen YoY.
Bank Mandiri juga menghadirkan Kopra Mobile untuk menjawab kebutuhan mobilitas nasabah bisnis. Layanan ini memungkinkan nasabah memantau saldo, mengeksekusi transaksi, dan melakukan otorisasi pembayaran melalui perangkat seluler. Kopra Mobile dilengkapi proses onboarding melalui verifikasi biometrik Face Recognition serta integrasi Mobile Token.
Direktur Information Technology Bank Mandiri Sunarto Xie menyampaikan bahwa pengembangan layanan digital dilakukan dengan menggabungkan inovasi, keamanan, dan kenyamanan nasabah.
“Bagi kami, layanan digital harus memberikan pengalaman transaksi yang mudah dan nyaman, dengan tetap mengutamakan keamanan serta keandalan sistem. Karena itu, aspek keamanan dan kemudahan penggunaan menjadi bagian penting dalam setiap pengembangan layanan,” ujar Sunarto.
Dari sisi pendapatan, hingga September 2026 pendapatan bunga Bank Mandiri tumbuh 7,08 persen YoY menjadi Rp97,3 triliun. Pendapatan nonbunga meningkat 13,8 persen menjadi Rp29,4 triliun, sedangkan pendapatan bunga bersih naik 6,2 persen menjadi Rp61,2 triliun.
Total pendapatan secara bank only meningkat 8,54 persen menjadi Rp90,6 triliun. Pada saat yang sama, biaya operasional turun 9,03 persen menjadi Rp32,7 triliun.
“Pendapatan kami terus tumbuh seiring pertumbuhan kredit dan meningkatnya transaksi nasabah. Kami melihat fee-based income menjadi penopang penting untuk menjaga pertumbuhan laba. Semakin aktif nasabah bertransaksi, semakin besar pendapatan berulang yang bisa kami bangun. Karena itu, kami terus memperkuat layanan untuk memenuhi lebih banyak kebutuhan transaksi nasabah. Di saat yang sama, operasional kami juga semakin efisien. Kombinasi ini yang terus kami perkuat agar pertumbuhan laba tetap terjaga,” ujar Novita.
Peningkatan produktivitas tercermin dari rasio biaya terhadap pendapatan atau cost to income ratio (CIR) bank only yang membaik menjadi 36,1 persen, dibandingkan 43 persen setahun sebelumnya. Return on equity (ROE) tercatat 23,6 persen, sedangkan return on assets (ROA) mencapai 2,99 persen.
Bank Mandiri juga menjaga kualitas aset di tengah ekspansi kredit. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) bruto bank only membaik menjadi 0,98 persen per September 2026, dibandingkan 1,03 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Ketahanan portofolio didukung NPL coverage ratio bank only sebesar 243 persen dan cost of credit sebesar 0,55 persen. Rasio kredit dalam perhatian khusus atau special mention loan (SML) bank only turun menjadi 2,88 persen dari 3,35 persen setahun sebelumnya. Pada segmen korporasi, NPL tercatat 0,30 persen, sedangkan NPL kredit ekosistem turunan sebesar 0,90 persen.
Dalam materi paparan kinerja, Danis menjelaskan bahwa kualitas aset tetap menjadi perhatian di tengah ekspansi kredit.
“Pertumbuhan kredit perlu disertai penilaian risiko dan pemantauan kualitas aset yang disiplin. Dengan pengelolaan tersebut, kami menjaga kualitas portofolio agar Bank Mandiri dapat terus mendukung kebutuhan pembiayaan masyarakat dan dunia usaha,” ujar Danis.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) bank only tercatat 18,4 persen per September 2026. Posisi ini mendukung ruang bagi Bank Mandiri untuk melanjutkan pengembangan bisnis dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.
Ke depan, Bank Mandiri akan terus memperkuat pertumbuhan melalui perluasan pembiayaan berbasis ekosistem, peningkatan transaksi nasabah, serta pengembangan layanan digital dan bisnis bullion. Strategi tersebut dijalankan dengan tetap menjaga kualitas aset, efisiensi, dan kecukupan modal agar pertumbuhan bisnis memberikan kontribusi berkelanjutan bagi perekonomian nasional.
“Fokus kami bukan hanya menjaga pertumbuhan bisnis, tetapi juga memastikan setiap ekspansi memberikan nilai tambah bagi nasabah, pelaku usaha, dan pemegang saham. Dengan fundamental keuangan yang sehat serta layanan yang semakin terintegrasi, kami optimistis Bank Mandiri dapat terus mendukung aktivitas ekonomi dan memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat,” tutup Novita.