Bukan Cuma Dagingnya, Hilirisasi Tuna dari Kulit sampai Tulang Bisa Lipatgandakan Nilai Ekonomi RI

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 03 May 2026, 10:42 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Potensi hilirisasi ikan tuna kian dipandang serius, bukan hanya dari dagingnya. Kulit, tulang, dan sisik tuna ternyata menyimpan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dari perkiraan selama ini.

Indonesia Tuna Consortium mencatat industri kolagen berbasis tuna diproyeksikan bernilai lebih dari US$ 9 miliar pada 2030. Indonesia punya bahan bakunya dalam jumlah besar.

Lead Indonesia Tuna Consortium, Thilma Komaling, menyebut sekitar 40 hingga 50 persen bagian tuna tidak dimanfaatkan optimal dalam produksi konvensional. Padahal nilainya tinggi.

Kulit, tulang, dan sisik bisa diolah jadi kolagen, gelatin, biopeptida, hingga bahan farmasi. Semua itu selama ini masih dianggap limbah.

Thilma menegaskan pendekatan 100 persen utilization adalah kunci transformasi industri ini. Dari satu ekor tuna, nilai ekonomi bisa berlipat tanpa tambah tekanan pada stok ikan.

Ekspor tuna Indonesia tumbuh 7,46 persen sepanjang 2021 hingga 2025. Total nilainya mencapai US$ 1,038 miliar, dengan pasar utama di Amerika Serikat, Thailand, dan Jepang.

Di balik angka positif itu, serapan tenaga kerja di sektor ini masih rendah. Banyak lulusan kelautan dan perikanan akhirnya bekerja di luar bidangnya.

Indonesia juga dinilai masih terlalu pasif di forum global pengelolaan tuna. Thilma mengingatkan, jika tidak aktif terlibat, Indonesia hanya akan jadi price taker, bukan rule maker.

Pemerintah terus memperkuat tata kelola perikanan tuna lewat kuota, pengawasan, dan sertifikasi internasional. Langkah ini penting agar ekspor tuna tetap punya daya tawar di pasar global.

Transformasi menuju industri hilir berbasis bioteknologi dinilai tidak bisa ditunda lagi. Indonesia punya sumber dayanya, yang kurang hanya keberanian untuk mengubah cara bermain.