Kurs Rupiah Tertekan, Analis Sebut Anggaran Negara Perlu Fokus ke Impor Minyak

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 01 May 2026, 23:05 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Rupiah masih berada dalam tekanan akibat sentimen global. Kenaikan harga minyak dunia dan suku bunga tinggi Amerika Serikat jadi pemicu utama.

Pada penutupan Kamis, 30 April 2026, rupiah melemah 0,12 persen ke level Rp17.346 per dollar AS. Tekanan kurs disebut masih berlanjut dalam beberapa pekan terakhir.

Federal Reserve menahan suku bunga di kisaran 3,5 sampai 3,75 persen. Kebijakan ini membuat aset berbasis dollar AS tetap menarik bagi investor global.

Di saat bersamaan, harga minyak dunia bergerak liar. Brent sempat menyentuh 126,41 dollar AS per barel sebelum ditutup di 114,01 dollar AS, sementara WTI berakhir di 105,07 dollar AS.

Analis Ibrahim Assuaibi menilai kondisi ini membebani Indonesia karena kebutuhan impor energi masih besar. Kebutuhan minyak nasional mencapai 2,1 juta barel per hari, sedangkan produksi domestik sekitar 600 ribu barel.

Ia menilai situasi tersebut bisa menekan transaksi berjalan dan anggaran negara. Karena itu, pemerintah disarankan menunda sementara program besar seperti Makan Bergizi Gratis, Kopdes Merah Putih, dan belanja alutsista.

Meski begitu, Bank Indonesia dinilai sudah agresif menjaga stabilitas rupiah lewat intervensi pasar. BI juga menegaskan fundamental ekonomi nasional masih solid, didukung cadangan devisa, neraca dagang, dan pertumbuhan ekonomi.