Cara Epstein Gandeng Ilmuwan Harvard untuk Memoles Reputasi dan Mencari Keuntungan

Oleh Zahra Zahwa pada 21 Feb 2026, 08:23 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Pada 2008, Harvard University secara diam-diam memutuskan untuk menolak donasi di masa depan dari seorang dermawan besar, Jeffrey Epstein. Selama satu dekade sebelumnya, Epstein telah menyumbangkan sekitar US$9,1 juta ke universitas tersebut. Namun pada tahun itu, ia divonis bersalah atas kasus prostitusi, termasuk melibatkan anak di bawah umur, sehingga Harvard berupaya menghentikan aliran dana darinya.

Meski demikian, enam tahun kemudian Epstein masih menemukan cara untuk menyalurkan kekayaannya kepada sejumlah ilmuwan ternama Harvard, khususnya di bidang genetika area yang lama menarik minat pribadinya. Email yang dirilis Departemen Kehakiman AS menunjukkan bahwa Epstein bahkan berencana membentuk perusahaan investasi yang secara formal dijalankan oleh ilmuwan Harvard, tetapi tetap berada di bawah kendali keuangannya.

Dokumen dan catatan publik mengungkap Epstein mendirikan perusahaan tersebut bersama George Church, pelopor riset genetika yang memimpin departemen penting di Wyss Institute for Biologically Inspired Engineering Harvard. Church dikenal luas karena mendirikan puluhan perusahaan bioteknologi serta upayanya menghidupkan kembali mamut berbulu melalui rekayasa genetika.

Epstein juga menyumbang ke sejumlah universitas elite lain, termasuk Columbia University, yang baru-baru ini mencopot dua staf pengajar karena hubungan mereka dengan Epstein. Di Harvard, hubungan Epstein dengan dua profesor Church dan ahli biologi Martin Nowak dilaporkan lebih dalam.

Foto yang dirilis Departemen Kehakiman memperlihatkan Church dan Nowak diduga mengunjungi pulau pribadi Epstein. Investigasi Harvard pada 2020 menemukan Epstein membantu Nowak menggalang dana untuk mempertahankan ruang kantor bergengsi di Harvard Square. Bahkan, Nowak memberikan akses kartu kunci ke fasilitas Harvard kepada Epstein hingga 2018. Harvard menjatuhkan sanksi kepada Nowak pada 2021 atas hubungannya dengan Epstein, namun tidak memberhentikannya. Baik Church maupun Nowak tidak dituduh melakukan pelanggaran terkait kejahatan Epstein.

Perusahaan “Georgarage”

Pada 2014, Epstein mengirim email kepada Church dengan ide membentuk perusahaan investasi. Church mengusulkan proyek senilai US$10 juta, termasuk riset genetika, pembalikan penuaan, hingga penciptaan “gajah tahan dingin” merujuk pada ambisi menghidupkan mamut.

Epstein memilih nama “Georgarage,” yang merujuk pada “George’s Garage.” Meski namanya terkesan milik Church, dokumen menunjukkan perusahaan itu didaftarkan di Delaware oleh pengacara Epstein, Darren Indyke. Email memperlihatkan Epstein terlibat langsung dalam keputusan investasi. Diskusi investasi melibatkan beberapa perusahaan, termasuk eGenesis perusahaan rekayasa genetika yang mengembangkan organ hasil edit gen untuk transplantasi manusia. Meski ada pembahasan opsi saham dan investasi, juru bicara eGenesis menyatakan perusahaan tidak pernah menerima dana dari Georgarage atau Epstein.

Dalam korespondensi lain, Epstein dan Church juga membahas investasi pada perusahaan gene-editing Androcyte. Pendiri Androcyte, James Clement, mengaku menolak proposal Epstein untuk menjadi ketua dewan perusahaan. Catatan korporasi Delaware menunjukkan status Georgarage kini tidak aktif karena gagal membayar pajak. Tidak ada bukti dalam dokumen yang dirilis bahwa Epstein benar-benar menginvestasikan dana ke perusahaan-perusahaan tersebut.

Upaya Memoles Citra

Hubungan Epstein dengan Harvard telah berlangsung puluhan tahun. Laporan Harvard 2020 menyebut universitas menerima US$9,1 juta sebelum Presiden saat itu, Drew Faust, memutuskan menghentikan penerimaan donasi pada 2008. Namun, laporan itu juga menemukan Epstein masih berperan dalam donasi tidak langsung antara 2010–2015.

Epstein tampaknya memanfaatkan hubungan dengan ilmuwan ternama untuk memperbaiki citranya. Dalam email 2012, seorang pihak tak disebutkan namanya menginformasikan bahwa siaran pers tentang pendanaan Epstein untuk riset Nowak berhasil dimuat di media besar. Strategi ini diduga untuk mendorong hasil pencarian daring yang lebih positif tentang dirinya. Namun upaya tersebut tidak sepenuhnya berhasil. Dalam balasan email, Epstein mengeluhkan jumlah artikel yang terlalu sedikit dan jarak publikasi yang terlalu lama, menginginkan publikasi hampir setiap hari untuk memperkuat citra filantropisnya.

Kasus ini kembali mencuat setelah dokumen baru dirilis. Harvard menyatakan sedang meninjau informasi terbaru untuk menentukan langkah yang diperlukan terhadap individu-individu yang terlibat. Kisah ini menunjukkan bagaimana Epstein berupaya menggunakan dunia akademik bergengsi untuk membangun kembali reputasinya bahkan setelah universitas secara resmi memutus hubungan dengannya.