Cara Ternak Kroto di Toples untuk Pemula, Modal Minim Bisa Jadi Peluang Usaha

Oleh Hidayat Taufik pada 25 Aug 2026, 15:15 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Budidaya kroto atau telur semut rangrang bisa menjadi alternatif usaha rumahan bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan.

Pemeliharaan koloni dapat dilakukan menggunakan toples sehingga tidak membutuhkan tempat yang luas.

Kroto memiliki pasar tersendiri, terutama di kalangan penghobi burung kicau dan pemancing.

Telur semut rangrang tersebut kerap digunakan sebagai pakan burung maupun umpan untuk memancing.

Nilai jual kroto juga cukup menarik. Di sejumlah pasar, harganya dapat mencapai sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 per kilogram, bergantung pada kualitas dan kondisi pasar.

Bagi pemula yang tertarik mencoba usaha ini, ada sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan, mulai dari menyiapkan media hingga menentukan waktu panen.

1. Menyiapkan Toples dan Rak

Langkah awal yang perlu dilakukan adalah menyiapkan toples plastik transparan sebagai tempat koloni. Toples dapat dilubangi pada bagian bawah dengan ukuran sekitar 5 hingga 7 sentimeter, kemudian lubang tersebut ditutup menggunakan lakban hitam.

Media tersebut selanjutnya disusun pada rak bertingkat. Cara ini membuat penggunaan ruang menjadi lebih hemat sekaligus memudahkan proses perawatan.

Area pemeliharaan sebaiknya berada di tempat yang tenang dengan sirkulasi udara yang baik. Untuk mengurangi risiko semut keluar, kaki rak dapat ditempatkan di dalam wadah berisi air.

Rak juga sebaiknya tidak bersentuhan langsung dengan dinding atau benda lain yang dapat menjadi akses bagi semut untuk keluar maupun predator untuk masuk.

2. Memilih Bibit Koloni

Kualitas koloni menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan budidaya kroto. Bibit dapat diperoleh dari alam atau dibeli dari peternak yang sudah berpengalaman.

Koloni yang dipilih idealnya memiliki ratu, semut pekerja, semut prajurit, serta pejantan. Ratu memiliki peranan utama dalam keberlangsungan reproduksi koloni.

Setelah bibit diperoleh, letakkan wadah koloni di dekat media toples. Semut kemudian dapat dibiarkan berpindah secara alami agar lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.

3. Mengatur Asupan Pakan

Pemberian makanan harus dilakukan secara teratur untuk membantu menjaga kesehatan dan perkembangan koloni. Semut rangrang membutuhkan sumber protein serta karbohidrat sebagai bagian dari kebutuhan nutrisinya.

Protein dapat diperoleh dari berbagai jenis serangga, seperti jangkrik, belalang, atau ulat. Pemberian pakan perlu disesuaikan dengan jumlah koloni agar tidak meninggalkan banyak sisa.

Sementara itu, kebutuhan energi dapat dipenuhi melalui cairan manis. Larutan gula atau madu bisa ditempatkan dalam wadah kecil di luar toples sehingga tidak mengotori sarang.

4. Merawat Koloni dari Gangguan

Kebersihan lingkungan menjadi bagian penting dalam pemeliharaan kroto. Sisa makanan yang tidak termakan perlu segera dibersihkan agar tidak membusuk dan mengundang hama.

Perangkap air pada bagian bawah rak juga harus diperiksa secara rutin. Fungsinya untuk membantu mencegah semut keluar dari area budidaya.

Ruangan tempat koloni dipelihara sebaiknya memiliki ventilasi yang cukup dan tidak terkena hujan secara langsung. Hewan seperti cicak dan tokek juga perlu diwaspadai karena dapat mengganggu keberadaan koloni.

5. Memahami Waktu Panen

Proses perkembangan kroto membutuhkan waktu sekitar 15 hingga 20 hari dari telur hingga memasuki tahap larva. Namun, koloni yang baru dibentuk sebaiknya tidak langsung dipanen agar jumlah semut dapat berkembang terlebih dahulu.

Setelah koloni dinilai cukup kuat dan stabil, pemanenan dapat dilakukan secara berkala. Kroto yang terkumpul kemudian dipisahkan dari semut, sementara koloni dan ratunya dikembalikan ke media pemeliharaan.

Jumlah hasil panen tidak selalu sama pada setiap toples. Produktivitas dipengaruhi oleh ukuran koloni, kondisi ratu, kesehatan semut, pemberian pakan, serta kualitas perawatan.

Kroto yang sudah dipanen dapat ditawarkan kepada penghobi burung, toko pakan, pemancing, maupun calon pembeli melalui media sosial. Dengan pemasaran yang tepat, budidaya kroto skala rumahan dapat dikembangkan secara bertahap.