Lari Tak Sekadar Kejar Jarak, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan

Oleh Hidayat Taufik pada 25 Aug 2026, 10:00 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Lari sering dianggap sebagai olahraga yang berkaitan dengan pencapaian jarak, kecepatan, hingga waktu tempuh. Padahal, manfaatnya bagi tubuh tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa jauh seseorang mampu berlari.

Sebagai olahraga aerobik, lari dapat membantu menjaga kebugaran jantung dan paru-paru. Aktivitas ini juga dapat menjadi bagian dari pola hidup aktif apabila dilakukan secara rutin dan disesuaikan dengan kemampuan fisik.

Mengikuti event lari pun tidak selalu berarti harus mengejar posisi terdepan. Berlari atau berjalan beberapa kilometer sesuai kemampuan dapat menjadi langkah sederhana untuk menjaga tubuh tetap aktif sekaligus membentuk kebiasaan berolahraga.

Dalam perkembangannya, sejumlah event lari kini tidak hanya menawarkan aktivitas olahraga. Kegiatan tersebut mulai dipadukan dengan program sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.

Salah satunya melalui Deloitte Runify 2026 yang berlangsung di Plaza Sudirman, Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (23/8). Lebih dari 600 peserta yang terdiri dari karyawan Deloitte, klien, mitra, dan komunitas ambil bagian dalam kategori 5 kilometer (km) dan 10 km.

Lari dan Dampaknya bagi Kesehatan

Saat berlari, tubuh membutuhkan energi lebih besar sehingga kerja jantung dan paru-paru ikut meningkat. Jika dilakukan secara teratur, aktivitas tersebut dapat membantu menjaga kebugaran kardiorespirasi.

Namun, setiap orang memiliki kemampuan fisik yang berbeda. Pelari pemula tidak perlu memaksakan diri untuk langsung mencapai jarak panjang atau mempertahankan kecepatan tinggi.

Porsi latihan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh masing-masing. Rutinitas yang dilakukan secara konsisten juga lebih penting agar olahraga dapat menjadi bagian dari keseharian.

Event lari juga mulai membawa pesan yang lebih luas dengan mengajak peserta memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Dengan konsep tersebut, aktivitas olahraga tidak hanya berorientasi pada pencapaian individu.

Pada Deloitte Runify 2026, peserta turut berkontribusi melalui penggalangan dana. Penjualan tiket dan donasi berhasil mengumpulkan lebih dari Rp170 juta yang akan dialokasikan untuk mendukung pendidikan pelajar dari keluarga kurang mampu di berbagai wilayah Indonesia.

Indonesia Leader sekaligus Presiden Direktur PT Deloitte Konsultan Indonesia, Brian Indradjaja, menyebut Deloitte Runify telah memasuki penyelenggaraan yang ketiga.

"Setiap peserta yang terlibat seperti karyawan, klien Deloitte, relawan, pendukung, dan donatur, telah berkontribusi dengan membantu memperluas akses terhadap pendidikan bagi generasi muda Indonesia sekaligus membuka jalan menuju berbagai peluang di masa depan," kata Brian.

Dengan konsep tersebut, setiap kilometer yang ditempuh peserta memiliki nilai lebih dari sekadar pencapaian olahraga. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk membantu memperluas akses pendidikan.

Di sisi lain, pelaksanaan event dengan jumlah peserta besar juga dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Mobilitas peserta, penggunaan transportasi, dan kebutuhan operasional selama kegiatan berpotensi menghasilkan emisi karbon.

Untuk mengetahui besaran dampaknya, Deloitte menggandeng Jejakin dalam penghitungan jejak karbon Deloitte Runify 2026. Perhitungan tersebut mencakup aktivitas peserta, penggunaan transportasi, hingga kebutuhan operasional acara.

Emisi yang dihasilkan nantinya dikompensasi melalui program penanaman mangrove. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menekan dampak lingkungan yang muncul dari penyelenggaraan event.

Pengelolaan limbah juga menjadi bagian dari konsep ramah lingkungan dalam kegiatan tersebut. Deloitte mengajak karyawan mengumpulkan perangkat elektronik yang sudah tidak digunakan sebagai bagian dari program pengelolaan e-waste.

Bersama Olah Plastic, berbagai limbah plastik dan elektronik yang dikumpulkan dari kantor Deloitte dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan acara. Material tersebut digunakan antara lain untuk membuat medali finisher, elemen panggung, dinding foto, hingga instalasi seni.

Pemanfaatan kembali material tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan konsep ekonomi sirkular. Edukasi mengenai upcycling juga dilakukan melalui lokakarya yang diikuti 50 karyawan Deloitte.

Dalam kegiatan tersebut, keyboard komputer bekas dimanfaatkan kembali menjadi gantungan kunci.