Jamkrindo

China Pelajari Serangan AS ke Venezuela, Fokus pada Sistem Pertahanan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 07 Jan 2026, 13:40 WIB

Burnt containers terlihat di Pelabuhan La Guaira, Venezuela, usai pasukan AS menangkap Presiden Nicolas Maduro, 3 Januari 2026. (Foto: Juan BARRETO / AFP)

JAKARTA, Cobisnis.com – China langsung mempelajari taktik militer Amerika Serikat saat menyerang Venezuela pada Sabtu (3/1/2026). Serangan itu berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dan menyoroti titik lemah sistem pertahanan udara Venezuela yang mengandalkan radar buatan China dan rudal Rusia.

Serangan dilakukan pasukan elite Delta Force AS dengan kombinasi serangan siber, pengintaian elektronik, dan manuver taktis di lapangan. Operasi yang berlangsung hanya 2 jam 20 menit ini berhasil menculik Maduro dan Cilia, yang kemudian diterbangkan ke kapal perang USS Iwo Jima sebelum dibawa ke New York.

Sistem pertahanan Venezuela seperti S-300VM dan Buk-M2 lumpuh akibat gangguan siber, sementara radar JY-27A produksi China tidak terhubung langsung ke sistem rudal sehingga tidak optimal mendeteksi helikopter yang terbang rendah. Helikopter AS hanya terbang sekitar 30 meter di atas laut, mempersulit deteksi radar permukaan.

Fu Qianshao, analis militer China sekaligus mantan anggota Angkatan Udara, menekankan bahwa operasi ini menjadi studi kasus penting. “Kita perlu memperkuat sistem pertahanan udara dan keamanan siber agar siap menghadapi ancaman serupa,” ujarnya.

Beijing telah lama mengamati taktik militer AS, terutama sejak Perang Teluk 1991. Meski Caracas bukan lawan sepadan bagi Washington, pengalaman ini menjadi pelajaran bagi China mengenai metode pengacakan elektromagnetik, serangan siluman, dan penghancuran radar yang sudah dipraktikkan AS selama beberapa dekade.

Di media sosial China, aksi cepat pasukan AS menjadi topik diskusi panas. Banyak warganet menyerukan penguatan ekonomi dan militer demi menjaga kedaulatan negara. “Negara yang tidak kuat pasti akan ditindas,” tulis salah satu pengguna, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan nasional.

Pakar anti-terorisme dan intelijen menyoroti lemahnya respons Venezuela, yang dipicu perpecahan internal dan kegagalan intelijen. Radar portabel JY-27A, meski diklaim tahan gangguan, tidak terhubung langsung ke sistem rudal sehingga koordinasi pertahanan udara menjadi lambat.

Xie Maosong, peneliti senior di Institut Studi Strategis Nasional Universitas Tsinghua, menilai operasi ini bukan ancaman langsung bagi China karena perbedaan kekuatan militer yang sangat signifikan. Namun kewaspadaan tetap harus ditingkatkan, terutama di wilayah ibu kota dan lokasi strategis.

China melihat operasi ini sebagai pengingat bahwa pertahanan negara memerlukan koordinasi antar-sistem, kesiapan personel, dan perlindungan siber yang kuat. Beijing juga memperkuat kemampuan intelijen dan mitigasi risiko terhadap infiltrasi asing sebagai langkah preventif.

Dengan mengamati strategi AS, China berupaya memperkuat pertahanan udara, meningkatkan kesiapsiagaan militer, dan memperketat keamanan siber. Pelajaran dari Venezuela menjadi cerminan penting bahwa sistem pertahanan tanpa koordinasi dan kesiapan personel tetap rentan terhadap serangan modern.