JAKARTA, Cobisnis.com – Selama puluhan tahun, China secara konsisten memperluas pengaruhnya di Amerika Latin melalui perdagangan, pembiayaan, dan pembangunan infrastruktur. Namun, kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang semakin agresif di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump memunculkan pertanyaan besar: akankah apa yang disebut sebagai “doktrin Donroe” mampu mendorong China keluar dari kawasan tersebut?
Penangkapan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi militer mengejutkan awal bulan ini menjadi sinyal kuat bahwa sasaran AS bukan hanya Caracas, tetapi juga Beijing. China, yang selama bertahun-tahun menjadi mitra dekat Venezuela dengan menanamkan modal besar di sektor minyak dan infrastruktur, kini terancam menanggung miliaran dolar utang yang belum terbayar akibat perubahan rezim tersebut.
Bagi Beijing, dampaknya jauh lebih luas. Langkah AS ini dipandang sebagai peringatan keras atas kampanye besar Washington untuk menekan dan mengurangi pengaruh China di Amerika Latin. Dalam beberapa dekade terakhir, China telah menggelontorkan dana besar untuk proyek pelabuhan, pembangkit listrik, jalan, rel kereta, hingga jaringan telekomunikasi di kawasan tersebut, sekaligus memperkuat posisinya secara geopolitik.
Strategi keamanan nasional AS yang dirilis Desember lalu secara tegas menyebut komitmen untuk “menolak kendali kompetitor non-Hemisfer” atas aset-aset strategis di Belahan Barat. Presiden Trump bahkan menyatakan secara terbuka bahwa tanpa intervensi AS, China dan Rusia akan semakin menguasai wilayah tersebut.
Pendekatan baru ini dikenal sebagai doktrin “Donroe”, plesetan dari Doktrin Monroe 1823 yang menegaskan Amerika Latin sebagai wilayah pengaruh AS. Doktrin ini menimbulkan kekhawatiran di banyak ibu kota Amerika Latin, karena AS dinilai berpotensi menggunakan tekanan ekonomi, sanksi, hingga kekuatan militer untuk memaksa negara-negara memilih kepentingan Washington ketimbang Beijing.
China sendiri menyadari meningkatnya risiko politik tersebut. Di Panama, misalnya, pengadilan tinggi membatalkan kontrak pelabuhan yang dioperasikan perusahaan terkait Hong Kong, sejalan dengan tekanan AS. Namun, Beijing tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur. Dengan nilai perdagangan tahunan mencapai sekitar US$500 miliar dan pembiayaan resmi lebih dari US$300 miliar sejak 2000, China telah menjadi mitra ekonomi utama bagi banyak negara Amerika Latin.
Proyek-proyek besar seperti pelabuhan Chancay di Peru, investasi kendaraan listrik di Brasil, hingga penguasaan tambang tembaga dan litium di Amerika Selatan menunjukkan kedalaman keterlibatan China. Bagi banyak negara, investasi ini mempercepat pembangunan dan menutup kesenjangan infrastruktur yang lama diabaikan.
Para analis menilai, tanpa alternatif nyata dari AS, negara-negara Amerika Latin akan sulit melepaskan diri dari kerja sama dengan China. Meskipun Washington mulai meningkatkan pembiayaan pembangunan, para pakar meragukan perusahaan swasta AS mampu menyaingi kapasitas dan keberanian investasi perusahaan China yang didukung negara.
Ke depan, China diperkirakan tidak akan mundur, melainkan menyesuaikan strategi dengan fokus pada sektor-sektor pembangunan seperti energi hijau, pertanian, dan logistik. Dengan demikian, Amerika Latin berpotensi menjadi arena uji utama: apakah tekanan keras AS mampu membendung pengaruh China, atau justru mendorong negara-negara kawasan semakin mendekat ke Beijing.