JAKARTA, Cobisnis.com – The Coca-Cola Company kembali melakukan pengurangan tenaga kerja sebagai bagian dari agenda reorganisasi global. Perusahaan minuman asal Amerika Serikat ini berencana melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap 75 karyawan di kantor pusatnya di Atlanta, Georgia.
Rencana tersebut tercantum dalam pemberitahuan resmi yang disampaikan Coca-Cola kepada Georgia Office of Workforce Development. Surat itu bertanggal 30 Desember 2025 dan menjadi dasar awal pelaksanaan PHK yang dijadwalkan mulai tahun ini.
Pemangkasan tenaga kerja disebut sebagai kelanjutan dari proses reorganisasi perusahaan yang telah diumumkan sejak 2025. Coca-Cola menegaskan langkah ini tidak menghentikan operasional kantor pusat, namun berfokus pada penyesuaian struktur internal.
PHK akan menyasar karyawan yang berbasis di kantor pusat Atlanta. Proses pengurangan jumlah tenaga kerja dilakukan secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan, mengikuti perencanaan bisnis perusahaan.
Berdasarkan dokumen resmi tersebut, pelaksanaan PHK diperkirakan dimulai pada atau sekitar 28 Februari 2026. Rentang waktu pelaksanaan berada dalam periode 14 hari sejak tanggal tersebut.
Sebanyak 75 karyawan diperkirakan terdampak pada tahap awal. Perusahaan juga membuka kemungkinan adanya dampak lanjutan pada bulan-bulan berikutnya, tergantung hasil evaluasi internal.
Coca-Cola menyatakan telah memberikan pemberitahuan lebih dari 60 hari kepada karyawan yang terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi ketentuan ketenagakerjaan dan memberi ruang persiapan bagi pekerja.
Surat pemberitahuan tersebut ditandatangani oleh Lisa V. Chang, Wakil Presiden Eksekutif sekaligus Kepala Sumber Daya Manusia Global The Coca-Cola Company. Manajemen menekankan komitmen transparansi dalam proses ini.
Di tingkat industri, Coca-Cola bukan satu-satunya perusahaan barang konsumsi yang melakukan efisiensi tenaga kerja. Sepanjang tahun lalu, sejumlah perusahaan besar seperti Nestlé, General Mills, dan Molson Coors juga mengambil langkah serupa.
Gelombang PHK di sektor konsumsi mencerminkan tekanan global terhadap biaya operasional dan perubahan strategi bisnis. Kondisi ini turut dipengaruhi dinamika ekonomi global dan penyesuaian permintaan pasar.
Langkah Coca-Cola ini menjadi sinyal bahwa restrukturisasi perusahaan besar masih berlanjut. Keputusan tersebut memperlihatkan bagaimana efisiensi tetap menjadi fokus utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.