Dampak Dolar Menguat, Harga Produk Ritel Ikut Disesuaikan oleh Emiten

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 05 Jun 2026, 18:59 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai memberi tekanan langsung ke industri ritel nasional. Sejumlah emiten peritel terpaksa menyesuaikan harga jual produk di gerai mereka.

Kenaikan harga terjadi karena biaya dari pemasok ikut meningkat. Tekanan utama berasal dari naiknya harga barang impor yang menjadi bagian dari rantai pasok ritel.

PT Supra Boga Lestari Tbk menyebut sebagian besar produk di gerai mereka sudah mengalami penyesuaian harga. Kenaikan tersebut mengikuti lonjakan biaya dari vendor dan pemasok utama.

Manajemen perusahaan menegaskan penyesuaian harga menjadi langkah yang tidak bisa dihindari. Hal ini terjadi karena pemasok lebih dulu menaikkan harga akibat tekanan biaya produksi global.

Meski begitu, perusahaan menilai dampaknya ke konsumen masih relatif terkendali. Segmen menengah ke atas dinilai masih mampu menyerap kenaikan harga tanpa penurunan konsumsi signifikan.

PT Midi Utama Indonesia Tbk juga menghadapi kondisi serupa di lapangan. Produk berbasis impor seperti susu dan bahan pangan menjadi yang paling terdampak pelemahan rupiah.

Perusahaan menyebut harga di gerai akan selalu mengikuti kebijakan principal atau pemasok utama. Jika harga dari pemasok naik, maka harga jual di toko ritel juga ikut menyesuaikan.

Meski tekanan biaya meningkat, industri ritel masih dipandang sebagai sektor yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi. Aktivitas konsumsi dinilai tetap berjalan meski terjadi penyesuaian harga.

Dari sisi kinerja, Supra Boga Lestari mencatat pendapatan Rp823,45 miliar pada kuartal I 2026. Sementara Midi Utama Indonesia membukukan pendapatan Rp5,88 triliun pada periode yang sama dengan pertumbuhan positif, menunjukkan permintaan masih terjaga di tengah tekanan nilai tukar.