Di Balik Tingkahnya, Ternyata Kucing Punya Perasaan

Oleh Hidayat Taufik pada 11 Oct 2026, 11:35 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com — Kucing bukan sekadar hewan peliharaan yang menggemaskan. Di balik tingkahnya, kucing ternyata mampu merasakan berbagai emosi, mulai dari takut, cemas, bahagia, hingga frustrasi.

Perilaku kucing yang terkadang mendekati pemilik saat suasana hati sedang buruk juga kerap menimbulkan rasa penasaran. Namun, cara kucing mengalami dan mengekspresikan emosinya berbeda dari manusia.

Kucing Bisa Mengalami Beragam Emosi

Kucing memiliki kemampuan merasakan sejumlah emosi yang memengaruhi perilakunya. Selain takut dan cemas, kucing juga dapat mengalami kebahagiaan, kelegaan, frustrasi, serta kondisi yang menyerupai kesedihan.

Respons emosional juga dapat muncul ketika kucing mengalami rasa sakit atau ketidaknyamanan. Karena itu, perubahan pola makan, aktivitas, dan keinginan bermain perlu diperhatikan oleh pemiliknya.

Tanda Kucing Merasa Nyaman dengan Pemilik

Kucing dapat membangun ikatan emosional dengan manusia yang dipercaya. Kedekatan tersebut terlihat melalui sejumlah perilaku yang menunjukkan rasa aman dan nyaman.

Beberapa tanda kucing merasa dekat dengan pemiliknya antara lain:

- Mengedipkan mata secara perlahan.

- Menggosokkan kepala atau tubuh kepada pemilik.

- Mengeong dengan suara lembut saat berinteraksi.

- Duduk atau tidur di dekat orang yang dipercaya.

- Meremas-remas menggunakan kedua kaki depan atau kneading.

- Mengangkat ekor dengan ujung sedikit melengkung saat mendekat.

Perilaku tersebut dapat menjadi tanda kepercayaan dan keterikatan. Meski demikian, setiap kucing memiliki karakter dan cara berinteraksi yang berbeda.

Kucing Bisa Merespons Kesedihan Manusia

Kucing dapat mengenali sejumlah perubahan pada orang yang sudah dikenalnya. Ekspresi wajah, intonasi suara, dan perubahan perilaku manusia bisa menjadi petunjuk bagi kucing untuk memberikan respons.

Ketika pemilik sedang sedih, sebagian kucing mungkin mendekat, mendengkur, atau mencari perhatian. Sebaliknya, kucing lainnya memilih menjaga jarak ketika merasakan perubahan suasana di sekitarnya.

Respons tersebut tidak selalu berarti kucing memahami kesedihan manusia dengan cara yang sama seperti manusia memahaminya.

Jangan Keliru Menafsirkan Perilaku Kucing

Pemilik perlu memahami perilaku kucing berdasarkan kebutuhan dan karakter alaminya. Menganggap tindakan hewan sebagai bentuk emosi manusia secara langsung dikenal sebagai antropomorfisme.

Sebagai contoh, kucing yang mencakar sofa tidak selalu sedang marah atau ingin membalas dendam karena tidak diberi makan. Perilaku itu bisa berkaitan dengan penandaan wilayah, kebutuhan alami untuk mencakar, perubahan lingkungan, atau stres.

Oleh sebab itu, memahami kebiasaan kucing dapat membantu pemilik memberikan respons yang lebih tepat. Perubahan perilaku yang berlangsung terus-menerus, terutama jika disertai perubahan pola makan atau aktivitas, juga perlu diwaspadai karena dapat menandakan gangguan kesehatan.

Kesimpulannya, kucing memang dapat mengalami berbagai emosi dan membangun ikatan dengan manusia. Namun, pemilik perlu memahami bahwa cara kucing merasakan dan mengekspresikan emosi tidak sepenuhnya sama dengan manusia.