JAKARTA, Cobisnis.com – PT BUMA Internasional Grup Tbk melaporkan kinerja keuangan dan operasional tahun buku 2025 (FY2025) yang penuh tantangan akibat gangguan operasional, cuaca ekstrem, serta penyelesaian sejumlah kontrak di Indonesia dan Australia.
Kondisi tersebut berdampak pada penurunan kinerja sepanjang tahun, termasuk turunnya volume produksi dan pendapatan. Pendapatan Grup tercatat menurun menjadi US$1,48 miliar, sementara produksi batu bara juga mengalami penurunan akibat kendala operasional di awal tahun.
Selain itu, kinerja juga tertekan oleh sejumlah biaya non-operasional, seperti penyisihan piutang dan penurunan nilai aset di Australia dan Amerika Serikat. Meski demikian, tekanan tersebut sebagian tertahan oleh keuntungan nilai wajar dari investasi di 29Metals.
Di tengah tekanan tersebut, perusahaan mencatat adanya pemulihan bertahap sepanjang tahun. Hal ini terlihat dari peningkatan kinerja operasional serta perbaikan produktivitas dan efisiensi biaya.
Direktur BUMA International Group, Iwan Fuad Salim, menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi periode yang menantang sekaligus momentum evaluasi bagi perusahaan.
“FY2025 merupakan tahun yang menantang bagi Grup. Gangguan yang kami hadapi pada kuartal pertama berdampak signifikan terhadap produksi dan pendapatan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan merespons dengan memperkuat disiplin operasional dan pengendalian biaya guna menjaga stabilitas keuangan.
“Langkah-langkah tersebut mendorong peningkatan produktivitas, biaya, dan arus kas sepanjang tahun, serta memberikan fondasi yang lebih kuat saat kami memasuki 2026,” lanjutnya.
Secara keseluruhan, BUMA berhasil membukukan arus kas bebas positif sebesar US$8 juta, berbalik dari posisi negatif pada tahun sebelumnya. Bahkan, pada kuartal keempat 2025, perusahaan mencatat arus kas bebas tertinggi sepanjang tahun.
Dari sisi keuangan, likuiditas perusahaan juga diperkuat melalui berbagai langkah pendanaan, termasuk dukungan dari perbankan seperti PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dalam fasilitas sindikasi.
Selain itu, perusahaan juga aktif memperluas portofolio bisnis dan mengamankan kontrak baru, termasuk kerja sama jangka panjang dengan PT Adaro Indonesia hingga 2030.
Memasuki 2026, BUMA optimistis dapat melanjutkan tren pemulihan dengan fokus pada peningkatan kinerja operasional, efisiensi biaya, serta penguatan struktur keuangan.
“Kami memasuki tahun 2026 dengan fondasi operasional yang lebih kuat, neraca keuangan yang lebih tangguh, serta basis kontrak yang lebih terjamin,” tutup Iwan.