JAKARTA, Cobisnis.com - Menjadi dewasa tidak selalu berarti seseorang harus menunjukkan seluruh perasaannya dalam setiap situasi. Ada kalanya seseorang perlu menyesuaikan diri dengan peran yang sedang dijalankan tanpa berarti menjadi pribadi yang palsu.
Psikiater Dr. Andreas menjelaskan konsep tersebut dalam podcast Suara Berkelas bertema “PSIKIATER: Cara Memakai "Topeng", Berempati, & Refleksi Diri di Fase DEWASA”. Menurutnya, topeng yang digunakan seseorang dalam kehidupan sosial tidak selalu berarti kepalsuan.
“Kita udah terlalu lama menganggap bahwa pakai topeng berarti palsu, berarti menutupi sesuatu. Gimana kalau ternyata topeng itu adalah suatu peran yang kita mainkan? Karena memang dalam situasi tersebut memang sebaiknya kita memenuhi peran itu,” kata Dr. Andreas, dikutip dari kanal Youtube Suara Berkelas, Selasa (15/9/2026).
Ia mencontohkan seseorang yang sedang berduka tetapi harus menjalankan tanggung jawab pekerjaan. Perasaan sedih tetap valid, namun dalam situasi tertentu seseorang perlu menjalankan perannya sebagai karyawan atau profesional.
Menurut Dr. Andreas, kemampuan menggunakan topeng secara tepat juga berkaitan dengan kesadaran diri. Seseorang perlu memahami peran apa yang sedang digunakan, mengapa peran tersebut diperlukan, serta kapan harus berhenti menggunakannya.
Ia juga mengingatkan agar topeng yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari tidak terlalu tebal. Menurutnya, semakin tipis topeng yang digunakan, seseorang cenderung merasa lebih aman dan nyaman ketika berinteraksi dengan orang lain.
Pembahasan tersebut berkaitan dengan cara orang dewasa membangun hubungan sosial. Dr. Andreas menilai banyak persoalan dalam kehidupan orang dewasa muncul karena kesalahpahaman, termasuk ketika seseorang memaksakan nilai atau cara pandangnya kepada orang lain.
Selain kemampuan beradaptasi, Dr. Andreas juga menekankan pentingnya refleksi diri. Ia menyarankan seseorang rutin melakukan check in terhadap dirinya sendiri untuk memahami apa yang sedang dipikirkan, dirasakan, dan ingin dilakukan.
Refleksi tidak harus selalu menghasilkan pikiran positif. Menurutnya, seseorang justru perlu melihat kembali kejadian yang dialami secara lebih netral agar dapat memahami sumber rasa kesal, kecewa, atau tidak nyaman yang muncul.
Kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang mengambil jarak dari emosinya sebelum menentukan respons. Dengan begitu, seseorang tidak hanya bereaksi terhadap keadaan, tetapi juga memahami alasan di balik respons tersebut.
Dr. Andreas menilai menjadi dewasa merupakan proses yang membutuhkan latihan. Ia mengatakan sekolah tidak selalu mengajarkan keterampilan yang dibutuhkan seseorang ketika menghadapi tanggung jawab, relasi, komunikasi, dan empati dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, memahami diri sendiri menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan. Bagi Dr. Andreas, menggunakan topeng bukan berarti kehilangan jati diri, selama seseorang tetap sadar terhadap peran yang sedang dimainkan dan mampu menyesuaikannya dengan situasi.