Dua Kapal Terjebak di Selat Hormuz, Pertamina Buka Suara

Oleh Iwan Supriyatna pada 04 Mar 2026, 08:18 WIB

Ilustrasi kapal tanker Pertamina.

JAKARTA, Cobisnis.com - PT Pertamina (Persero) memastikan terus memantau dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang masih beroperasi di Selat Hormuz, seiring dinamika keamanan di kawasan tersebut. Perusahaan juga menegaskan bahwa keselamatan seluruh awak kapal tetap menjadi prioritas utama.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menjelaskan bahwa total terdapat empat kapal yang terkait, namun dua di antaranya berada di luar Selat Hormuz.

“Memang ada dua kapal Pertamina di Selat Hormuz. Sebenarnya totalnya empat, tetapi dua kapal lainnya berada di luar wilayah tersebut,” ujarnya di Jakarta, Selasa (3/3/2026) malam.

Ia menegaskan hingga kini kondisi kapal maupun awak dalam keadaan aman. Pertamina juga terus menjalin koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, guna memastikan aspek pengamanan berjalan optimal.

“Sampai saat ini kondisi masih aman,” katanya.

Baron mengungkapkan, pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah menyumbang sekitar 19 persen dari total impor minyak mentah Indonesia. Untuk menjaga ketahanan energi nasional, Pertamina telah menyiapkan berbagai skema distribusi, baik melalui jalur reguler, alternatif, maupun mekanisme darurat.

Ia menambahkan, strategi pengadaan energi dan kemungkinan penyesuaian sumber pasokan masih terus dikaji dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola yang baik.

“Saat ini penyediaan energi kami lakukan melalui berbagai strategi yang sedang berproses, dengan tetap menjunjung tata kelola,” tuturnya.

Terkait harga BBM nonsubsidi, Pertamina masih mencermati perkembangan harga minyak dunia sebelum mengambil kebijakan lebih lanjut.

“Untuk tarif BBM ke depan, kami masih memantau dinamika yang ada,” jelasnya.

Baron juga memastikan stok energi menjelang Ramadhan dan Idul Fitri telah dipersiapkan dan dalam kondisi mencukupi untuk kebutuhan dalam negeri. Masyarakat pun diimbau tetap tenang serta bijak dalam menggunakan energi.

“Kami siap menyalurkan energi ke seluruh masyarakat,” tegasnya.

Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dan Laut Arab serta menjadi salah satu rute utama distribusi minyak mentah global. Indonesia sendiri masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah untuk diolah di kilang domestik, termasuk dari Timur Tengah. Karena itu, dinamika keamanan di kawasan tersebut, terutama terkait ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, turut menjadi perhatian dalam pengelolaan pasokan energi nasional.