Ekonomi Tak Bergairah, Smartphone Premium Tetap Jadi Incaran

Oleh Hidayat Taufik pada 12 Aug 2026, 08:00 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Minat konsumen terhadap smartphone kelas premium ternyata tetap kuat meski perekonomian global masih menghadapi berbagai tekanan.

Penjualan ponsel dengan harga rata-rata sekitar US$600 atau setara Rp10,7 juta tersebut justru mengalami pertumbuhan pada paruh pertama 2026.

Laporan Counterpoint Research mencatat penjualan smartphone premium secara global meningkat 5 persen secara tahunan pada semester I 2026.

Pertumbuhan tersebut turut membuat segmen premium menguasai 29 persen pasar smartphone dunia.

Capaian itu menjadi yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai perbandingan, smartphone premium menguasai 25 persen pasar pada semester I 2025 dan sekitar 20 persen pada periode yang sama pada 2022.

Salah satu faktor yang dinilai ikut mendorong perubahan tersebut adalah kenaikan harga komponen, terutama memori.

Kenaikan biaya produksi memberikan tekanan lebih besar kepada perangkat kelas menengah dan bawah dibandingkan smartphone premium.

Analis Senior Counterpoint Research Harshit Rastogi menjelaskan bahwa produsen ponsel premium memiliki keuntungan berupa margin yang lebih besar, Rabu (12/8/2026).

Kondisi tersebut membuat mereka relatif lebih mampu menyerap kenaikan biaya produksi.

Di sisi lain, kenaikan harga smartphone kelas menengah membuat perbedaan harga dengan perangkat flagship menjadi semakin kecil. Apalagi, sejumlah model flagship generasi sebelumnya kerap ditawarkan dengan potongan harga.

Situasi tersebut akhirnya membuat konsumen melihat perangkat flagship sebagai pilihan yang lebih menarik ketika hendak mengganti ponsel.

Selain melalui penyesuaian harga, produsen juga menawarkan berbagai skema pembelian untuk mendorong konsumen memiliki perangkat premium.

Samsung menjadi salah satu perusahaan yang memperluas program cicilan dan upgrade perangkat melalui Galaxy Forever.

Dalam skema tersebut, konsumen dapat membayar sebagian harga perangkat melalui cicilan selama satu tahun.

Setelah masa cicilan berakhir, pengguna memiliki pilihan untuk mengembalikan perangkat dan menggantinya dengan model terbaru, atau membayar sisa harga perangkat.

Pertumbuhan smartphone premium terjadi ketika kondisi ekonomi global masih menghadapi ketidakpastian.

Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memperkirakan tekanan inflasi masih berlanjut dan pemulihan ekonomi dunia berlangsung tidak merata.

Meski demikian, IMF dalam World Economic Outlook (WEO) edisi Juli 2026 masih memperkirakan ekonomi global tumbuh 3 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027.

Counterpoint menilai kondisi tersebut membuat produsen smartphone semakin mengarahkan strategi bisnisnya ke segmen premium. Perusahaan tidak hanya mengejar jumlah unit yang terjual, tetapi juga berupaya meningkatkan nilai transaksi dan margin keuntungan.

Analis Senior Counterpoint Karn Chauhan mengatakan perangkat kelas atas menjadi salah satu strategi produsen untuk mempertahankan keuntungan ketika pasar berada dalam tekanan.

Selain itu, konsumen kini cenderung menggunakan smartphone dalam waktu lebih lama sebelum melakukan penggantian.

Kondisi tersebut membuat sebagian pengguna memilih perangkat premium yang dinilai memiliki masa penggunaan lebih panjang.

Dari sisi merek, Apple masih menjadi pemimpin pasar smartphone premium global. Counterpoint mencatat Apple menguasai 65 persen pasar premium pada enam bulan pertama 2026.

Meski masih dominan, pangsa Apple menurun dibandingkan 2022 yang mencapai 74 persen. Penjualan perusahaan tetap tumbuh 9 persen secara tahunan, didorong antara lain oleh kinerja seri iPhone 17.

Namun, Apple menghadapi persaingan yang semakin kuat di China. Sejumlah produsen lokal seperti Huawei, Xiaomi, Oppo, dan Vivo mulai memberikan tekanan lebih besar di pasar smartphone premium terbesar dunia tersebut.

Sementara itu, Samsung berada di posisi kedua dengan pangsa pasar 19 persen. Penjualan smartphone premium Samsung tumbuh 3 persen, salah satunya ditopang oleh fitur Privacy Display yang diperkenalkan pada seri Galaxy S26.

Galaxy S26 Ultra bahkan menyumbang lebih dari separuh penjualan dari seluruh lini Galaxy S26 menurut laporan Counterpoint Research.