JAKARTA, Cobisnis.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia membuka opsi Indonesia mengekspor listrik ke negara tetangga. Namun, Indonesia harus tetap memiliki kendali dalam menentukan harga listrik yang dijual.
"Saya pikir, boleh kita ekspor, yang penting harganya kita tentukan," ujar Bahlil dalam acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).
Menurut Bahlil, ekspor listrik dapat dilakukan selama Indonesia memiliki posisi tawar dalam menentukan harga. Ia menekankan pengelolaan sumber daya energi harus tetap mempertimbangkan kepentingan nasional.
"Kalau beli barang, tapi harganya pun kalian tentukan," ujarnya.
Bahlil sebelumnya juga mengungkap proses negosiasi ekspor listrik dengan negara tetangga berlangsung cukup alot. Meski demikian, ia menyatakan Indonesia tidak keberatan melakukan ekspor karena hubungan antarnegara juga perlu dibangun melalui kerja sama.
"Bagi kami Indonesia tidak apa-apa kita ekspor karena kita harus saling membantu," ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 di ICE BSD City, Tangerang, pada 22 September lalu.
Namun, Bahlil mengingatkan kerja sama ekspor listrik harus memberikan keuntungan bagi kedua pihak. Ia menolak jika harga ditentukan secara sepihak berdasarkan kepentingan negara pembeli.
"Kerja sama itu saling menguntungkan, bukan kerja sama itu saling menekan. Tidak boleh. Saya tidak mau seperti itu," kata Bahlil.
Bahlil mengatakan Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto pada prinsipnya ingin menjalin hubungan baik dengan semua negara. Menurutnya, hubungan tersebut tetap harus dibangun dengan sikap saling menghargai.
"Jangan coba-coba menekan negara kami. Jangan coba-coba," ujar Bahlil.
Ia juga meminta negara tetangga mengedepankan adat ketimuran dalam proses negosiasi. Bahlil mengatakan hubungan antarnegara perlu dijaga agar kerja sama yang dibangun tidak menimbulkan persoalan.
"Saya tahu kalian punya cara-cara main itu. Saya tahu kalian. Saya sebagai orang timur sangat menghargai hubungan kekeluargaan, tapi jangan membuat ketersinggungan sesama keluarga. Itu dampaknya akan kurang bagus," ujar Bahlil.
Bahlil menegaskan Indonesia tetap menganut politik luar negeri bebas aktif. Dalam konteks ekspor listrik, prinsip tersebut berjalan bersama kepentingan Indonesia untuk memastikan sumber daya energi dikelola dengan posisi tawar yang kuat.