Jamkrindo

Gadis Sekolah AI Menggemaskan Ini Jadi Meme Baru Kelompok Sayap Kanan Ekstrem

Oleh Zahra Zahwa pada 01 Feb 2026, 17:29 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Sosok fiktif bernama Amelia, seorang siswi remaja Inggris hasil kecerdasan buatan (AI) dengan rambut bob ungu dan tampilan imut, mendadak menjadi meme populer di kalangan kelompok sayap kanan ekstrem. Fenomena ini menyebar luas di media sosial, khususnya di platform X, dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam berbagai meme dan video buatan AI, Amelia digambarkan menyuarakan narasi politik sayap kanan yang kerap bernuansa rasis, anti-imigran, dan Islamofobia. Ia ditampilkan menikmati budaya khas Inggris seperti minum bir di pub, membaca Harry Potter, hingga “kembali ke masa lalu” untuk bertempur dalam perang-perang bersejarah Inggris. Namun di sisi lain, ia juga divisualisasikan mengenakan seragam petugas imigrasi AS (ICE) dan melakukan deportasi migran secara brutal.

Konten-konten ekstrem ini bahkan dibagikan oleh tokoh sayap kanan Inggris seperti Tommy Robinson. Padahal, karakter Amelia awalnya diciptakan dua tahun lalu untuk tujuan yang sama sekali berbeda: sebagai bagian dari gim edukasi anti-ekstremisme yang didanai pemerintah Inggris.

Gim tersebut berjudul “Pathways: Navigating Gaming, the Internet & Extremism”, dikembangkan oleh organisasi nirlaba Shout Out UK (SOUK) sebagai bagian dari program Prevent milik Kementerian Dalam Negeri Inggris. Gim ini dirancang untuk mengedukasi anak muda tentang bahaya radikalisasi daring. Dalam cerita gim, pemain berperan sebagai karakter bernama Charlie yang berteman dengan Amelia yang secara bertahap menyebarkan disinformasi dan pandangan anti-imigran, lalu mencoba merekrut Charlie ke kelompok ekstrem.

Meski bertujuan edukatif, gim ini menuai kritik karena dianggap terlalu sederhana dan membuat lompatan logika dalam alur ceritanya. Namun menurut CEO SOUK, Matteo Bergamini, gim tersebut tidak dimaksudkan untuk dimainkan secara terpisah, melainkan sebagai bagian dari paket pembelajaran yang lebih luas dengan pendampingan guru.

Para analis menilai karakter Amelia “mudah dimemekan” karena memenuhi banyak stereotip yang digemari komunitas sayap kanan daring: perempuan kulit putih, menarik secara visual, dan menyuarakan pandangan ekstrem yang sejalan dengan ideologi mereka. Selain itu, karakter ini juga mencerminkan stereotip yang sering dilekatkan kelompok tersebut pada pemerintah Inggris, yang mereka anggap sebagai “nanny state” dan anti-kulit putih.

Sejak viral pada Januari lalu, meme Amelia berkembang pesat. Sejumlah unggahan di X meraih jutaan penayangan, grup komunitas daring bertema Amelia bermunculan, bahkan muncul dua mata uang kripto berbasis meme Amelia. Elon Musk pun sempat me-retweet salah satu meme tersebut.

Pakar ekstremisme digital menilai fenomena ini menunjukkan bagaimana AI mempermudah produksi dan penyebaran konten propaganda dengan “plausible deniability”, karena dapat dibela sebagai sekadar lelucon. Tanpa pelabelan yang jelas sebagai konten AI, publik pun semakin sulit membedakan antara tokoh nyata dan fiksi.

Kasus Amelia menjadi contoh nyata bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan ideologi ekstrem secara masif dan lintas negara, sekaligus menantang pemerintah dan platform digital dalam mengendalikan dampak sosialnya.

Tag Terkait