Gelombang PHK karena AI Berbalik Arah, Banyak Perusahaan Akui Salah Ambil Keputusan

Oleh M.Dhayfan Al-ghiffari pada 04 Jul 2026, 19:52 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com - Gelombang pemutusan hubungan kerja atau PHK yang sempat dilakukan sejumlah perusahaan demi mempercepat adopsi kecerdasan buatan atau AI mulai berbalik arah. Banyak perusahaan kini kembali membuka lowongan karena AI dinilai belum mampu menggantikan seluruh peran manusia.

Fenomena tersebut mulai terlihat di berbagai perusahaan global. Meski mampu meningkatkan efisiensi, AI masih memiliki keterbatasan dalam menangani pekerjaan yang membutuhkan pengalaman, intuisi, serta kemampuan mengambil keputusan.

Ford menjadi salah satu perusahaan yang kembali menambah jumlah karyawan. Produsen mobil asal Amerika Serikat itu merekrut ratusan insinyur berpengalaman untuk mengatasi persoalan kualitas kendaraan yang belum dapat diselesaikan oleh sistem berbasis AI.

Wakil Presiden Rekayasa Perangkat Keras Kendaraan Ford, Charles Poon, mengatakan AI merupakan alat yang sangat berguna. Namun, menurutnya, teknologi tersebut hanya akan memberikan hasil optimal jika didukung oleh kualitas data yang baik.

Perubahan serupa juga terjadi di Commonwealth Bank of Australia atau CBA. Setelah memangkas puluhan petugas layanan pelanggan dan menggantinya dengan bot suara AI, bank tersebut kembali mengandalkan tenaga manusia karena sistem belum mampu menangani seluruh kebutuhan nasabah.

IBM mengambil langkah yang tidak jauh berbeda. Meski AI mampu menangani sekitar 94 persen permintaan rutin di divisi sumber daya manusia, sekitar 6 persen kasus masih memerlukan penilaian manusia. Karena itu, perusahaan berencana meningkatkan perekrutan pegawai tingkat awal di Amerika Serikat hingga tiga kali lipat pada 2026.

Tren tersebut diperkuat sejumlah hasil riset. Intuition Labs menilai banyak perusahaan terlalu cepat menggantikan tenaga kerja dengan AI tanpa menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengawasi teknologi tersebut. Sementara itu, survei Orgvue dan Robert Half menunjukkan kolaborasi manusia dan AI terbukti lebih efektif dibandingkan menggantikan peran manusia sepenuhnya.